Begini Cara Memotret Supermoon 14 November 2016

Supermoon yang akan terlihat pada Senin, 14 November 2016 telah menarik banyak perhatian. Tidak mengherankan memang. Karena pada saat itu Bulan akan mencapai fase purnama pada titik terdekat dari Bumi. Sehingga purnama akan terlihat lebih besar dan terang. Bahkan supermoon kali ini akan menjadi yang terbesar dan paling terang sejak tahun 1948 atau setelah hampir 70 tahun silam. Terdengar sangat menarik huh?

Supermoon di Jakarta pada Juli 2014. Kredit: Henny.

Menyambut fenomena langka tentu ada keinginan dalam diri kita untuk mengabadikannya dengan kamera. Dan setelah itu mengunggahnya sebagai salah satu foto kebanggaan kita di Instagram. Namun supaya itu tidak hanya menjadi ekspektasi semata, ada baiknya kita pelajari terliebih dahulu cara-cara memotret supermoon.

Kesalahan yang paling umum ketika kita mencoba memotret supermoon ataupun purnama pada umumnya adalah Bulan akan terlihat kecil dan terlalu terang. Alih-alih ingin membingkai Bulan yang bulat dan terang malah hasilnya lebih mirip lampu taman. Ini biasa terjadi ketika kita menggambil gambar melalui kamera biasa dengan pengaturan otomatis. Apa yang salah ya kira-kira?

Harus diingat sebesar apapun supermoon yang akan terlihat, Bulan tetap saja benda berjarak ratusan ribu kilometer. Untuk bisa mendapatkan citra detail dari Bulan kita membutuhkan seperangkat DSLR dan lensa telegrafi yang cukup panjang. Semakin panjang lensa yang kita gunakan maka akan semakin besar dan detail pula citra Bulan yang bisa kita tangkap. Oleh karena itu direkomendasikan menggunakan lensa dengan panjang minimal 400-500 mm.

Perbandingan penampakan Bulan dengan panjang lensa berbeda. Via: Digital Photo Secrets.

Nah setelah mempersiapkan seperangkat DSLR dan lensa telegrafi. Maka kini Bulan sudah bisa terlihat besar sebagaimana yang kita lihat di langit. Namun bagaimana supaya Bulan tidak terlalu terang?

Harus kita sadari supermoon akan bersinar terang di antara langit malam yang gelap gulita. Dengan pengaturan otomatis maka kamera akan mengambil jalan tengah untuk membuat langit lebih terang dan mengakibatkan Bulan menjadi terlalu terang dan kehilangan detailnya. Oleh karena itu lebih baik gunakan pengaturan manual ketika ingin memotret supermoon atau bulan purnama pada umumnya.

Dalam pengaturan manual kita bisa memulai dengan shutter speed 1/125; ISO 200; aperture f/10. Dengan pengaturan ini kita bisa mulai memotret supermoon nanti. Dan tentu saja untuk memperoleh hasil yang kita inginkan kita bisa mengembangkan sendiri pengaturan pada kamera. Jadi di tahap ini kita hanya perlu banyak-banyak mencoba. Apalagi kalau kondisi pada saat itu tidak ideal misal banyak polusi cahaya atau berawan.

Pengaturan kamera untuk memotret supermoon. Kredit: kalastro.id

Nah sampai di sini harusnya kita sudah bisa memperoleh foto supermoon yang besar dengan kecerlangan yang ideal sehingga detail Bulan bisa terlihat dengan baik. Jangan lupa juga untuk menggunakan tripod supaya kamera tetap kokoh berdiri. Juga gunakan shutter release cable atau timer untuk mencegah kamera bergoyang ketika kita hendak mengambilan gambar.

Selain itu untuk menambah cantik foto supermoon nanti bisa pula kita kombinasikan dengan latar bangunan hingga model. Untuk itu kita harus memotret Bulan saat posisinya belum terlalu tinggi. Misal ketika Bulan mulai terbit di timur saat senja ataupun ketika akan tenggelam saat fajar. Menangkap citra supermoon yang terang saat langit kemerahan tentu menjadi suatu kemewahan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar