Proxima b dan Dilema Hidup di Katai Merah

Hingga kini kita baru mengetahui Proxima b dengan ukuran sebesar Bumi dan berada di zona laik huni. Masih jauh untuk bisa menjawab seberapa besar potensinya menopang kehidupan. Kita harus mengetahui seperti apa atmosfer, permukaan, iklim, dan berapa lama rotasinya. Untuk itu kita harus menunggu Proxima b transit atau melintas di depan bintang Proxima Centauri.

Ilustrasi Proxima b. Kredit: ESO.

Namun kehidupan tidak semata-mata bergantung pada kelaikan planet. Bintang tempatnya bernaung pun sangat menentukan. Sehingga kita pun harus menongok ke sudut pandang yang lebih luas: Mampukah sistem bintang Proxima Centauri mendukung kehidupan?

Bintang sejatinya adalah reaktor nuklir terbesar di alam semesta. Dalam inti bintang yang sangat panas terjadi penggabungan beberapa inti atom ringan menjadi satu atom dengan nomer massa yang lebih tinggi. Dan dari reaksi fusi ini bintang bisa menghasilkan energi yang terpancar ke luar hingga ke planet-planet yang mengitarinya.

Namun nuklir bukan energi yang benar-benar hijau. Bersamaan dengan pelepasan energi dari inti bintang, terlepas pula radiasi tinggi hingga partikel bermuatan. Dan pada tingkat tertentu, itu bisa mematikan.

Bumi pun secara simultan dihujani oleh radiasi dan partikel dari Matahari. Dan itensitasnya akan makin tinggi ketika terjadi badai matahari. Namun beruntung kehidupan di Bumi tidak serta merta musnah olehnya. Itu karena Bumi memiliki dua perisai: jarak yang jauh dari Matahari dan selimut medan magnet.

Medan magnet Bumi membelokkan partikel bermuatan dari Matahari, Kredit: K. Endo.

Bumi memiliki jarak sekitar 150 juta km dari Matahari. Dengan jarak sejauh itu radiasi dan partikel dari Matahari akan lebih dulu tersebar ke ruang angkasa. Sehingga itensitas yang sampai ke Bumi jauh lebih kecil. Sedangkan medan magnet akan membelokkan arah radiasi dan partikel yang tersisa sehingga tidak langsung mencapai Bumi. Desain yang menakjubkan bukan?

Kita memang beruntung karena hidup di Bumi yang mengorbit bintang kuning seperti Matahari. Dengan ukuran yang cukup besar dan panas membuat zona laik huni berada jauh dari Matahari. Jadi selain bisa hidup di zona laik huni, Bumi pun bisa memiliki perisai jarak. Atau kata lain, selain memperoleh suhu hangat, kita pun terlindung dari radiasi dan partikel Matahari.

Namun tidak pada bintang katai merah seperti Proxima Centauri.

Katai merah adalah kelas bagi bintang-bintang kecil dan dingin. Dengan massa kurang dari 0,5 massa Matahari dan suhu kurang dari 4.000 K. Massa yang rendah akan menurunkan tekanan pada inti bintang. Perpaduan antara tekanan rendah dan suhu dingin akan menyebabkan reaksi nuklir pada katai merah berjalan lambat. Akibatnya energi yang dihasilkan jauh lebih kecil. Dan zona laik huninya pun menjadi sangat dekat dengan bintang.

Proxima Centauri adalah katai merah dengan massa 0,12 massa Matahari dan bersuhu 3.000 K. Dari sumber daya itu energi yang dihasilkan Proxima Centauri hanya 0,00155 energi Matahari. Dengan energi sekecil itu Proxima Centauri tidak bisa terlalu jauh menghangatkan sekitarnya. Bahkan zona laik huni harus sangat dekat dari Proxima Centauri. Tidak lebih dari puluhan juta Km.

Proxima b beruntung karena masih berada cukup dekat dari Proxima Centauri. Dengan jarak sekitar 7,3 juta Km, Proxima b secara tepat berada di zona laik huni. Tidak terlalu dekat dan panas, ataupun tidak terlalu jauh dan dingin. Sehingga diharapkan air dalam bentuk cair bisa bertahan di permukaannya.

Namun meski sudah berada di zona laik huni, bukan berarti semua sudah beres. Jarak orbit Proxima b diperkirakan terlalu dekat untuk bisa memiliki perisai jarak. Dengan jarak orbit hanya 5% dibanding jarak orbit Bumi, radiasi dan partikel dari Proxima Centauri bisa mencapai Proxima b dengan itensitas yang masih tinggi. Bahkan mencapai 400 kali lebih kuat dibanding yang diterima Bumi dari Matahari. Dan sepertinya perisai terakhir, medan magnet Proxima b, akan kesulitan menghalaunya.

Orbit Merkurius dibandingkan dengan orbit Proxima b. Kredit: ESO.

Belum diketahui seberapa parah akibat dari radiasi dan partikel yang menggempur Proxima b. Mungkin akan ada badai geomagnetik dan ionisasi besar-besaran pada atmosfernya hingga terlihat aurora dimana-mana. Atau bahkan mungkin atmosfernya perlahan-lahan akan tergerus hingga habis. Sebagaimana yang diyakini terjadi pada Merkurius hingga kehilangan atmosfer. Bukan tidak mungkin, karena jarak orbit Proxima b lebih dekat dari jarak orbit Merkurius sekalipun.

Membayangkan hidup di bintang katai merah memang dilema. Ingin mendekat supaya hangat tapi akan terkena gempuran radiasi dan partikel. Ingin menjauh menghindari radiasi dan partikel tapi akan membeku kedinginan. Dua keinginan tidak mungkin dimiliki bersamaan. Sehingga manusia harus memilih salah satu, kemudian mencari solusi untuk lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar