Perseids, Hujan Meteor Terbaik Tahun 2016

Setiap tahun antara 23 Juli hingga 20 Agustus Bumi akan melintasi orbit komet Swift Tuttle. Ketika itu serpihan-serpihan debu (meteoroid) dari komet Swift Tuttle akan tertarik oleh gravitas Bumi. Menyebabkan meteoroid itu masuk ke dalam atmosfer dan mengalami gesekan hingga meteoroid itu terbakar. Fenomena terbakarnya meteoroid-meteoroid menjadi meteor-meteor ini biasa disebut hujan meteor.

Meteor Perseid tahun 2015. Kredit: Ohrid Astronomy Association.

Selama berpapasan dengan Bumi orbit komet Swift Tuttle berada di arah Rasi Perseus. Sehingga meteor-meteor yang terlihat waktu itu seakan-akan melesat dari arah Rasi Perseus. Dari titik arah munculnya meteor-meteor ini kemudian nama hujan meteor yang berasal dari komet Swift Tuttle dinamakan hujan meteor Perseids. Jadi nama Perseids hanya mengindikasikan titik pusatnya di rasi Perseus. Bukan karena bintang-bintang di rasi Perseus yang berjatuhan, misalnya.

Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, antara 23 Juli-20 Agustus 2016 ini pun Bumi akan kembali melintasi orbit komet Swift Tuttle. Dan menyebabkan hujan meteor Perseids bisa terlihat selama waktu tersebut. Pada tahun ini puncak hujan meteor Perseids pada 12-13 Agustus 2016. Menariknya, tahun ini bahkan hujan meteor Perseids digadang menjadi hujan meteor terbaik tahun ini!

Peningkatan Itensitas karena Gravitasi Jupiter

Hampir keseluruhan massa di Tata Surya berada pada Matahari. Sehingga Matahari memiliki gravitasi sangat kuat yang menyebabkan seluruh objek di Tata Surya mengorbit padanya dalam orbit yang relatif konstan. Meski begitu pengaruh gravitasi bukan hanya berasal dari Matahari. Seluruh objek bermassa di Tata Surya memiliki gravitasi. Terutama planet-planet gas raksasa seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Namun besar pengaruh gravitasi bukan hanya bergantung dari massa saja. Gravitasi sebanding dengan massa dan berbanding terbalik dengan jarak. Jadi semakin besar massa dan semakin dekat jaraknya maka semakin besar pula pengaruh gravitasi suatu objek terhadap objek lain.

Sebagaimana telah disebutkan bahwa hujan meteor Perseids sesungguhnya berasal dari meteoroid-meteoroid di orbit komet Swift Tuttle. Karena berukuran sangat kecil maka meteoroid-meteoroid itu sangat mudah bergeser posisi. Terutama karena pengaruh gravitas dari objek angkasa lain yang jauh lebih besar. Dan jaraknya relatif cukup dekat.

Salah satu objek angkasa yang paling besar pengaruh gravitasinya terhadap meteoroid-meteoroid dari komet Swift Tuttle adalah Jupiter. Karena Jupiter adalah planet raksasa dengan massa paling besar dan jaraknya relatif lebih dekat dibanding planet-planet raksasa lainnya. Bahkan pada beberapa tahun sebelumnya Jupiter berada searah dengan orbit komet Swift Tuttle terhadap Matahari. Sehingga momen itu menjadi jarak paling dekat antara Jupiter dan orbit komet Swift Tuttle.

Konfigurasi beberapa tahun lalu kurang lebih seperti ini: Matahari - orbit Swift Tuttle - orbit Bumi - Jupiter. Karena berada searah maka pengaruh gravitasi Jupiter terhada meteoroid-meteoroid yang berada di orbit komet Swift Tuttle akan kian besar. Akibatnya meteoroid-meteoroid itu akan tertarik ke arah Jupiter dan membawanya semakin dekat ke arah orbit Bumi.

Konsekuensi dari mendekatnya meteoroid-meteoroid dari komet Swuft Tuttle beberapa tahun lalu menyebabkan akan lebih banyak meteoroid yang bisa tertarik oleh gravitasi Bumi. Dan secara praktis diperkirakan kita bisa melihat lebih banyak meteor selama hujan meteor Perseids pada tahun ini. Pada puncaknya 12-13 Agustus 2016 diperkirakan bisa terlihat hingga 200 meteor per jam! Sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya hanya berkisar antara 100 meteor per jam.

Tanpa Gangguan Cahaya Bulan

Selain Itensitasnya yang diperkirakan meningkat, beruntung pada tahun ini puncak hujan meteor Perseids akan bertepatan dengan fase bulan sabit awal. Selama fase ini Bulan akan terbenam pada tengah malam. Praktis dengan begitu langit malam setelah tengah malam hingga menjelang matahari terbit akan terbebas dari cahaya bulan. Sehingga meteor-meteor Perseids bisa lebih mudah terlihat. Bahkan hingga meteor yang sangat redup sekalipun!

Tengah Musim Kemarau

Harus diakui bahwa cuaca adalah faktor paling menentukan dalam setiap pengamatan langit. Sayangnya cuaca tidak bisa ditentukan dengan pasti. Cuaca hanya bisa diperkirakan dari serangkaian gejala cuaca sebelumnya. Dan cuaca memiliki kecenderungan terhadap musim. Selama musim kemarau maka cuaca akan cenderung cerah. Begitupun sebaliknya. Karena hujan meteor Perseids berlangsung pada tengah-tengah musim kemarau, bukan awal atau akhir, maka kemungkinan cuaca cerah akan lebih besar.

Penghasil Meteor Terang

Salah satu keistimewaan hujan meteor Perseids adalah meteor-meteor yang dihasilkan rata-rata lebih terang dibanding hujan meteor lainnya. Rata-rata meteor Perseids mampu mencapai magnitudo -1,4 atau hampir seterang Sirius, bintang paling terang. Terangnya meteor-meteor Perseids diduga karena ukuran dari serpihan-serpihan komet Swift Tuttle yang lebih besar dan pergerakannya yang lebih cepat ketika memasuki atmosfer bumi.

Cara Pengamatan

Sebagaimana namanya, meteor-meteor Perseids akan muncul dari arah rasi Perseus. Jadi untuk mengamati hujan meteor Perseids sebaiknya selama rasi Perseus ada di atas horison. Rasi Perseus mulai terbit setelah tengah malam di arah timur laut. Sehingga waktu untuk mengamati hujan meteor Perseids adalah setelah tengah malam hingga menjelang matahari terbit. Sedangkan waktu terbaik adalah sekitar pukul 04:00 waktu setempat hingga menjelang matahari terbit karena waktu itu posisi Rasi Perseus sudah cukup tinggi.

Ilustrasi rasi Perseus di langit utara menjelang pagi pada 11 Agustus 2014. Kredit Stellarium.
Ilustrasi rasi Perseus di langit timur laut pada 13 Agustus 2016. Kredit Stellarium.

Harus diketahui meski meteor-meteor Perseids akan bergerak dari arah rasi Perseus namun bukan berarti meteor-meteor hanya bisa terlihat di arah rasi Perseus saja. Meteor-meteor Perseids bisa terlihat di arah langit mana saja. Bukan hanya di langit timur laut di mana rasi Perseus terbit. Jadi untuk mengamati hujan meteor Perseids utamakan mencari lokasi yang memiliki medan pandang luas ke segala arah. Sehingga kemungkinan terlihatnya meteor pun akan semakin besar.

Meteor-meteor Perseids bergerak sangat cepat mencapai lebih dari 60 km per detik. Dengan gerakan yang sangat cepat dan arah munculnya yang tidak bisa diduga maka untuk mengamati hujan meteor Perseids sebaiknya menggunakan mata telanjang saja. Ini dimaksudkan untuk memperoleh medan pandang seluas-luasnya. Penggunaan binokuler ataupun teleskop malah membuat medan pandang terbatas dan meteor pun akan sulit terlihat.

Meski telah didukung oleh ketiadaan gangguan cahaya bulan dan meteor-meteor yang terang, namun pemilihan lokasi yang jauh dari polusi cahaya tetap diperlukan. Jangan sampai semua keistimewaan hujan meteor Perseids tahun ini pudar begitu saja karena langit yang kemerah-merahan karena pantulan lampu kota. Jadi siapkan perjalananmu ke lokasi yang jauh dari peradaban dan nikmatilah keindahan alam ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar