Crepuscular Rays: Cahaya Remang yang Membelah langit

Kalian tentu pernah duduk santai di pesisir pantai dan memperhatikan bagaimana gelombang laut berdatangan. Di pesisir pantai yang landai tanpa batu karang maka gembang laut akan datang dengan sempurna. Namun di pesisir pantai yang berbatu karang maka gelombang laut akan terpecah. Air laut akan menabrak batu karang dan hanya sedikit yang bisa melaluinya.

Sebagaimana air laut, cahaya matahari pun datang ke Bumi dalam gelombang-gelombang. Jika cahaya matahari tidak terhalang oleh apapun maka cahaya matahari akan sampai dengan sempurna. Namun jika cahaya matahari itu terhalang oleh sesuatu maka cahaya matahari akan membentuk bayangan yang memanjang di belakang penghalang tersebut.

Crepuscular Rays di Karimunjawa pada 18 Agustus 2016. Kredit: Martin Marthadinata.

Secara alami penghalang cahaya matahari sampai ke permukaan bumi bisa dikarenakan oleh benda bermassa di luar angkasa ataupun di atmosfer. Misalnya karena Bulan ataupun awan. Namun bayangan yang disebabkan Bulan dan awan berbeda. Bulan adalah benda padat dengan sebaran massa yang merata sehingga bayangan yang muncul pun akan merata. Sedangkan awan adalah benda gas dengan sebaran massa yang tidak merata sehingga bayangan yang muncul pun tidak merata.

Jika cahaya matahari melalui lapisan awan yang tipis maka cahaya matahari akan menembusnya dengan itensitas yang cukup tinggi. Sehingga bayangan dari awan tipis masih cukup terang. Sedangkan jika cahaya matahari melalui lapisan awan yang tebal maka cahaya matahari akan menembusnya dengan itensitas yang rendah. Sehinga bayangan dari awan tebal akan sangat redup.

Jadi sebaran massa awan yang tidak merata akan membentuk bayangan dengan itensitas cahaya berbeda-beda. Ada bayangan terang dari awan tipis ada pula bayangan redup dari awan tebal. Perbedaan itensitas cahaya pada bayangan awan ini kemudian menyebabkan cahaya matahari bergaris-garis. Bahkan jika perbedaan itensitas cahayanya sangat jauh maka seakan-akan langit terbelah atau disebut crepuscular rays!

Crepuscular Rays di Mojokerto pada 2 Mei 2014. Kredit: Gigih Ikhbal.

Sebagaimana istilah crepuscular yang berarti remang-remang, maka repuscular rays bisa diartikan sebagai cahaya remang-remang di antara cahaya terang. Repuscular rays terjadi ketika cahaya matahari melewati gumpalan awan dengan sebaran massa yang sangat tidak merata. Lapisan awan sangat tipis akan membentuk bayangan terang sedangkan pada lapisan awan tebal akan membentuk cahaya sangat redup.

Crepuscular rays biasanya muncul ketika posisi Matahari belum tinggi misal selama waktu fajar dan senja. Karena pada kedua waktu itu cahaya matahari akan melalui lapisan atmosfer yang lebih tebal sehingga cahaya matahari lebih mungkin terhalangi oleh awan. Selain itu ketika posisi Matahari masih rendah maka bayangan yang terbentuk akan lebih panjang sehingga lebih mudah teramati.

Berdasarkan arahnya repuscular rays dibedakan pula oleh anticrepuscular rays. Di mana crepuscular rays akan muncul searah Matahari sedangkan anticrepuscular rays akan muncul berlawanan arah Matahari. Sayangnya karena berlawanan arah dengan Matahari menyebabkan antricrepuscular rays lebih sulit diamati karena lebih redup dibanding crepuscular rays. Selain arah dan itensitas cahaya, crepuscular rays dan antirepuscular rays sama saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar