Bagaimana Proses Terjadinya Hujan Meteor?

Sebagaimana bintang-bintang yang kita lihat pada malam hari, Matahari pun hanya salah satu bintang yang berada di Galaksi Bima Sakti. Dan Bumi tempat kita tinggal pun hanya satu dari delapan planet yang mengelilingi Matahari. Selain planet-planet masih banyak objek lain yang juga mengelilingi Matahari. Seperti asteroid, komet, meteoroid, dan lain-lain. Keseluruhannya membentuk suatu sistem bintang bernama Tata Surya.

Tata Surya kita begitu luas. Jarak antara Matahari dan Bumi saja mencapai 150 juta kilometer. Dimana jarak ke tepian Tata Surya diperkirakan mencapai lebih dari 100.000 kali jarak antara Matahari dan Bumi. Bisa dibayangkan di tepian Tata Surya kita yang nun jauh itu Matahari akan bersinar redup. Bahkan tidak lebih terang dari bulan purnama. Sehingga temperatur di tepian Tata Surya sangat dingin.

Ilustrasi Awan Oort. Kredit: Shane L. Larson.

Di tepian Tata Surya kita yang begitu dingin itu bersemayam pula bongkahan-bongkahan es dan turut mengelilingi Matahari. Bongkahan-bongkahan es itu begitu banyaknya sehingga membentuk seperti awan. Kemudian oleh ilmuwan wilayah bongkahan-bongkahan es itupun disebut sebagai Awan Oort. Jaraknya diperkirakan terentang antara 50.000 - 100.000 kali jarak Matahari dan Bumi.

Pergerakan planet-planet raksasa di Tata Surya bagian dalam terkadang membuat salah satu bongkahan es di Awan Oort tertarik masuk. Sehingga bongkahan es itu pun mulai bergerak mendekat ke Matahari. Dan ketika mulai dekat ke Matahari maka es itu pun akan mulai mengalami pemanasan. Es mencair dan dengan cepat menguap. Uap air itu kemudian membentuk selubung dan ekor dari bongkahan es tersebut.

Bongkahan es yang menguap "terpanggang" Matahari ini adalah objek yang kita kenal sebagai komet. Namun komet bukan hanya mengandung air semata. Tapi juga mineral logam sebagaimana yang ada pada bebatuan. Ketika uap air mulai mendesak keluar dari inti komet maka mineral logam ini pun akan terbawa. Sehingga ekor komet yang terbentuk akan tersusun dari gas dan debu.

Seiring waktu ekor gas dari komet akan hilang tersapu angin surya. Sedangkan ekor debu dari komet akan menetap pada tempatnya. Dengan begitu disepanjang lintasan komet akan dipenuhi oleh debu yang berasal dari serpihan-serpihan padat komet. Dan setiap kali komet itu kembali melintas maka kandungan debu pada lintasannya pun akan semakin menumpuk. Kumpulan debu komet ini kemudian disebut meteoroid.

Bumi dan komet sama-sama mengelilingi Matahari dalam orbit masing-masing. Dan beberapa komet memiliki orbit yang berpotongan dengan orbit Bumi. Sehingga ada kalanya Bumi akan melintasi beberapa orbit komet. Dan ketika itu terjadi maka Bumi akan menerjang gerombolan meteoroid yang berasal dari komet tersebut. Kemudian keduanya pun bertabrakan!

Namun gerombolan meteoroid itu tidak akan langsung menghujam ke permukaan bumi. Melainkan akan melewati atmosfer bumi terlebih dahulu. Ketika meteoroid-meteoroid itu melewati atmosfer dengan sangat cepat maka meteoroid-meteoroid itu akan bergesekan hebat dengan partikel udara. Gesekan ini akan menimbulkan panas yang dengan cepat membakar meteoroid.

Fenomena terbakarnya meteoroid dalam atmosfer ini yang kita kenal sebagai meteor. Nah karena ketika Bumi melintasi orbit komet akan banyak meteoroid yang jatuh dan terbakar di atmosfer. Maka saat itu akan banyak meteor yang bisa terlihat. Fenomena meningkatnya jumlah meteor yang bisa terlihat ini yang disebut sebagai hujan meteor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar