Apa Itu Hujan Meteor?

Pernah melihat meteor atau kadang disebut bintang jatuh? Kami yakin pasti banyak yang sudah pernah. Entah itu secara tidak sengaja ketika menengadah ke langit malam. Atau memang sengaja memburunya ketika sedang berlangsung hujan meteor pada waktu tertentu.

Meteor berasal dari batuan angkasa yang tertarik oleh gravitasi bumi. Ketika batuan angkasa itu memasuki atmosfer bumi dalam kecepatan ratusan ribu kilometer per jam, batuan angkasa itu mengalami gesekan hebat dengan partikel udara. Gesekan tersebut kemudian menimbulkan energi panas yang dengan cepat membakar batuan angkasa tersebut. Sehingga batuan angkasa itu akan terlihat seperti cahaya yang melesat cepat dan kita kenal sebagai meteor.

Meteor Orionid di Shanghai, China tahun 2009. Kredit: Jefferson Teng
Meteor Orionid di Shanghai, China tahun 2009. Kredit: Jefferson Teng

Meteor bisa terlihat kapan saja pada setiap malam. Meski begitu umumnya tidak banyak meteor yang bisa ditemukan pada malam-malam biasa. Dalam waktu satu jam belum tentu ada satu saja meteor yang melesat. Lantas apakah meteor menjadi sesuatu yang langka? Tidak juga. Pada waktu-waktu tertentu itensitas meteor akan mengalami peningkatan. Fenomena meningkatnya itensitas meteor ini yang kita kenal sebagai hujan meteor.

Fenomena hujan meteor bisa terjadi karena Bumi melintasi suatu wilayah yang banyak didiami oleh batuan angkasa. Gerombolan batuan angkasa tersebut umumnya dihasilkan oleh komet yang melintas pada waktu sebelumnya. Komet disusun oleh mayoritas air dan mineral logam sehingga ketika komet mulai mendekati Matahari maka komet akan terevaporasi. Dengan cepat air dalam komet akan menguap dan "mendobrak" keluar membentuk ekor gas. Dan mineral logam pun akan ikut terhempas membentuk ekor debu.

Seiring berjalannya waktu ekor gas dari komet akan hilang tersapu oleh angin surya. Sedangkan ekor debu dari komet akan tetap bertahan dalam waktu yang lama. Karena ekor debu tetap bertahan ditempatnya maka disepanjang orbit komet akan dipenuhi serpihan-serpihan komet seukuran debu hingga batu. Jumlah serpihan-serpihan komet itu pun akan terus meningkat setiap kali komet itu melintas.

Karena Bumi dan komet memiliki pola orbit yang relatif konstan, maka Bumi akan melintasi suatu orbit komet pada waktu yang sama setiap tahunnya. Jadi misal hari ini Bumi melintasi suatu orbit komet maka tahun depan atau 365 hari setelahnya Bumi akan kembali melintasi orbit komet yang sama. Hal inilah yang menyebabkan hujan meteor memiliki waktu-waktu yang selalu berulang setiap tahunnya.

Berikut adalah waktu puncak hujan meteor di Indonesia:
  • Hujan meteor Quadrantids - 4 Januari
  • Hujan meteor Lyrids - 23 April
  • Hujan meteor Eta Aquarids - 6 Mei
  • Hujan meteor Delta Aquarids - 29 Juni
  • Hujan meteor Perseids - 13 Agustus
  • Hujan meteor Orionids - 22 Oktober
  • Hujan meteor Leonids - 17 November
  • Hujan meteor Geminids - 13 Desember

Waktu hujan meteor tersebut terulang setiap Bumi melintasi orbit kometnya masing-masing. Misal hujan meteor Eta Aquarids selalu memuncak pada 6 Mei setiap tahunnya ketika Bumi melintasi orbit komet Halley. Sedangkan hujan meteor Perseids selalu memuncak pada 13 Agustus setiap Bumi melintasi komet Swift-Tuttle. Karena memiliki asal usul komet masing-masing maka setiap hujan meteor pun memiliki karakteristik yang berbeda. Seperti warna dan terang tiap meteor dalam suatu hujan meteor.

Meski hujan meteor umumnya berasal dari suatu komet namun hujan meteor tidak diberi nama sesuai nama komet asalnya. Secara praktis hujan meteor diberi nama sesuai arah rasi bintang dimana meteor itu melesat. Misal hujan meteor Orionids akan terlihat melesat dari arah rasi Orion. Sedangkan hujan meteor Geminids akan terlihat melesat dari arah rasi Gemini. Pusat arah lesatan meteor ini dikenal sebagai radian. Meski begitu untuk mengamati suatu hujan meteor tidak harus selalu terpaku pada radian hujan meteor tersebut.

Berikut adalah radian hujan meteor di Indonesia:
  • Hujan meteor Quadrantids - Rasi Bootes
  • Hujan meteor Lyrids - Rasi Lyra
  • Hujan meteor Eta Aquarids - Rasi Aquarius
  • Hujan meteor Delta Aquarids - Rasi Aquarius
  • Hujan meteor Perseids - Rasi Perseus
  • Hujan meteor Orionids - Rasi Orion
  • Hujan meteor Leonids - Rasi Leo
  • Hujan meteor Geminids - Rasi Gemini

Meski disebut hujan meteor namun jangan menganggap meteor-meteor yang akan terlihat seperti hujan yang "mengeroyok" kita. Meski sedang puncak hujan meteor sekalipun, meteor-meteor yang terlihat tetap hanya satu per satu dengan selisih waktu yang tidak tentu. Untuk mempermudah menunjukkan seberapa tinggi aktivitas suatu hujan meteor digunakan pula ZHR atau Zenithal Hourly Rate.

ZHR adalah itensitas meteor per jam dalam kondisi ideal. Yaitu kondisi dimana langit malam gelap sempurna tanpa ada polusi cahaya dan posisi radian ada di zenit. Jika kita mengamati hujan meteor dalam kondisi yang tidak ideal misal banyak polusi cahaya atau radian tidak tepat di atas maka itensita hujan meteor pun akan lebih sedikit. Misal rata-rata ZHR Eta Aquarids 30. Jadi dalam kondisi ideal akan terlihat 30 meteor tiap jam selama puncak hujan meteor Eta Aquarids.

Berikut adalah ZHR hujan meteor di Indonesia:
  • Hujan meteor Quadrantids - ZHR 130
  • Hujan meteor Lyrids - ZHR 20
  • Hujan meteor Eta Aquarids - ZHR 30
  • Hujan meteor Delta Aquarids - ZHR 30
  • Hujan meteor Perseids - ZHR 100
  • Hujan meteor Orionids - ZHR 20
  • Hujan meteor Leonids - ZHR 20
  • Hujan meteor Geminids - ZHR 120

Polusi cahaya yang bisa menggangu kenampakan meteor bisa berasal dari cahaya lampu dan cahaya bulan. Cahaya lampu yang memenuhi setiap sudut kota tentu membuat langit menjadi terang sehingga meteor akan sulit untuk terlihat. Untuk menghindari cahaya lampu kita bisa mencari lokasi yang gelap misal ke pelosok desa-desa. Sedangkan cahaya bulan akan menggangu jika sedang fase purnama. Sayangnya cahaya bulan jika sedang fase purnama tidak bisa dihindari, sehingga tiap tahun suatu hujan meteor memang memiliki kondisi yang berbeda-beda, kadang ideal kadang tidak.

Karena setiap tahunnya suatu hujan meteor memiliki kondisi yang berbeda-beda, ada baiknya jika ingin mengamati suatu hujan meteor maka lebih dulu memeriksa waktu puncaknya. Pilihlah hujan meteor yang tidak bertepatan dengan fase bulan purnama atau mendekati. Sehingga langit gelap bisa didapatkan. Setelah diperoleh hujan meteor yang ideal tanpa polusi cahaya dari bulan, kemudian agendakan pengamatan. Buatlah rencana untuk mencari lokasi yang gelap untuk mengamati hujan meteor yang telah dipilih.

Selain lokasi yang gelap dibutuhkan juga medan pandang yang luas karena meteor bisa muncul di arah mana saja dalam kubah langit. Bisa di langit utara, langit timur, langit selatan, dan langit barat. Jadi semakin luas medan pandang yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk melihat meteor yang muncul. Lokasi dengan medan pandang yang luas seperti lapangan, pematang sawah, pesisir pantai, dan puncak bukit.

Selain itu untuk memperoleh medan pandang yang luas maka pengamatan pun harus dilakukan dengan mata telanjang. Tanpa alat bantu seperti teleskop dan binokuler. Karena teleskop dan binokuler fungsinya adalah memfokuskan medan pandangan hanya ke satu titik sehingga akan membatasi medan pandang. Jadi dengan bekal kedua mata kita sudah cukup untuk melihat meteor-meteor yang melesat cepat dari arah yang tidak bisa ditebak sebelumya.

Waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor adalah setelah tengah malam hingga menjelang matahari terbit. Alasannya karena pada waktu itu wilayah kita akan berada pada sisi bumi yang menghadap ke arah revolusi bumi. Karena menghadap ke arah revolusi bumi, maka wilayah kita pun akan paling banyak terkena meteor. Sederhananya ini seperti kita sedang mengendarai motor saat turun hujan. Maka baju bagian depan yang menghadap arah laju motor akan paling banyak terkena air hujan bukan? Sedangkan baju bagian belakang akan lebih kering karena terlindungi oleh baju bagian depan.

Setelah menentukan lokasi dan waktu untuk mengamati suatu hujan meteor, Maka yang dibutuhkan selanjutnya hanya berbaring dan menatap langit dengan sabar. Ingat meski disebut hujan meteor, namun meteor yang muncul tidak akan "keroyokan" seperti hujan. Meteor akan terlihat satu per satu sesuai itensitasnya masing-masing. Selamat berburu hujan meteor!