Bagaimana Aktivitas Matahari Ketika Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016?

Salah satu hal yang harus diperhatikan ketika gerhana matahari total adalah seberapa besar aktivitas matahari. Aktivitas matahari memang tidak akan mempengaruhi terlihat atau tidaknya gerhana matahari total. Karena gerhana matahari total tetap akan terlihat selama cuaca mendukung untuk melakukan pengamatan. Sedangkan aktivitas matahari akan menentukan seperti apa gerhana matahari total yang nanti bisa terlihat.

Citra matahari 26 Februari 2016. Kredit: SOHO.

Jika aktivitas matahari tinggi maka ketika gerhana matahari total akan terlihat korona yang bergejolak dengan bentuk yang tidak simetris. Selain itu juga bisa terlihat prominensa atau lidah api akibat letupan massa korona yang terjadi di permukaan matahari. Tingginya aktivitas maahari juga membuat pembentukan sunspot lebih itensif sehingga selama gerhana matahari sebagian akan terlihat banyak bintik-bintik di permukaan matahari.

Sebaliknya jika aktivitas matahari sedang rendah maka ketika gerhana matahari total akan terlihat korona yang relatif tenang dan bentuknya simetris. Selain itu juga akan sulit menemukan prominensa karena rendahnya aktivitas di permukaan matahari. Rendahnya aktivitas matahari pun membuat pembentukan sunspot relatif lebih sedikit. Sehingga selama gerhana matahari sebagian akan terlihat wajah matahari yang bersih tanpa noda.

Pada 9 Maret 2016 masyarakat di Indonesia kembali akan menyaksikan gerhana matahari total setelah terakhir terjadi di tahun 1995. Pada tahun 2016 ini Matahari telah melewati masa puncak aktivitasnya yang terjadi antara tahun 2012 hingga 2013. Sehingga aktivitas matahari ketika gerhana matahari total 9 Maret 2016 nanti diperkirakan akan lebih rendah dibanding beberapa tahun terakhir.

Citra matahari oleh SDO Continuum, SDO Magnetogram, LASCO C2, dan LASCO C3. Kredit: SOHO.

Dan sepertinya perkiraan itu akan benar-benar terjadi. Karena berdasarkan data dari website pemantau aktivitas matahari SOHO beberapa hari terakhir terlihat aktivitas matahari sangat rendah. Dalam citra SDO Continuum tidak terlihat adanya sunspot berukuran besar sehingga permukaan matahari hampir bersih sama sekali. Dan pada citra SDO Magnetogram terlihat pembentukan medan magnet di permukaan matahari pun relatif minim. Sedangkan pada citra LASCO C2 dan LASCO C3 terlihat tidak ada aktivitas korona yang berarti.

Rendahnya aktivitas matahari ketika gerhana matahari total 9 Maret 2016 mungkin akan disambut berbeda-beda bagi setiap orang yang menyaksikan. Misalnya bagi mereka yang ingin menyaksikan prominensa dan sunspot ketika gerhana matahari total nanti tentu akan kecewa. Karena selama proses gerhana matahari total nanti bisa jadi akan sulit menemukan prominensa ataupun sunspot. Dan juga korona matahari yang nanti terlihat tidak akan menjulur jauh ke angkasa melainkan relatif lebih tipis dan simetris.

Sedangkan bagi para peneliti malah bersuka cita. Karena dengan tenangnya aktivitas matahari maka akan terlihat lapisan korona matahari yang sebenarnya. Lapisan korona ini akan sulit untuk ditentukan jika aktivitas matahari sedang tinggi. Sebab ketika itu korona akan bergejolak sehingga akan sulit menentukan batas terluarnya. Dengan aktivitas matahari yang rendah maka korona matahari akan relatif lebih stabil sehingga lebih mudah menentukan batas terluarnya. Sehingga para peneliti akan bisa menentukan kedalaman dari korona selama gerhana matahari total berlangsung.

Setelah mengetahui kedalaman korona pada gerhana matahari total 9 Maret 2016 maka para peneliti bisa membandingkannya dengan kedalaman korona pada beberapa tahun terakhir. Sehingga akan diketahui perubahan apa saja yang terjadi pada permukaan terluar matahari khususnya. Dan diharapkan dengan mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada matahari maka akan didapatkan pemahaman yang semakin baik terhadap dinamika yang terjadi pada matahari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar