Tidak Selalu Gerhana Matahari Berbahaya Jika Dilihat Langsung

“Jangan melihat gerhana matahari secara langsung karena berbahaya bagi mata!”

Kira-kira begitulah himbauan yang pasti terdengar setiap terjadinya gerhana matahari. Himbauan itu menjadi semacam “peraturan instan” tanpa dipahami oleh masyarakat luas mengapa ada himbauan tersebut. Himbauan itu pun seakan berlaku secara global, tanpa mengenal situasi-situasi tertentu sebagai pengecualian.

Menjelang gerhana matahari total di China pada 1 Agustus 2008. Kredit: David Leong.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pemahaman bahwa gerhana matahari itu berbahaya jika dilihat dengan mata telanjang. Itu betul dalam kebanyakan kasus dan situasi. Hanya saja dengan “pemahaman langsung jadi” itu, akan menciptakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Misal begini:

“Jika gerhana matahari berbahaya dilihat langsung, bagaimana jika melihat matahari yang tidak sedang gerhana? Apakah aman?”

“Bagaimana jika melihat sunspot?”

“Lalu kalau melihat transit planet Merkurius atau Venus?”

Dan seterusnya, dan seterusnya…

Seperti itulah sesuatu jika dipamahami tidak mencapai akarnya. Menjawab hanya satu pertanyaan, namun menumbuhkan seribu pertanyaan baru. Seakan memotong rumput tapi tidak sampai akarnya. Rumput itu akan tumbuh terus dan terus dan pemotongan pun harus terus dilakukan. Sungguh melelahkan.

Nah daripada hanya memberi satu kata sebagai jawaban, aman atau bahaya, tapi harus terus menjawab pertanyaan berikutnya. Maka ada baiknya untuk memahami inti dari masalahnya. Dan untuk menemukan inti permasalahan kali ini, maka harus dipahami alasan mendasar “Mengapa gerhana matahari berbahaya jika dilihat langsung?”

Nah jadi begini. Sebenarnya permasalahan itu bukan ada pada gerhana matahari. Melainkan pada Matahari itu sendiri. Matahari, dengan ataupun tanpa gerhana, akan berbahaya jika dilihat langsung. Maka kini Pertanyaan pun berganti, “Mengapa matahari berbahaya jika dilihat langsung?”

Mengapa Matahari Berbahaya Jika Dilihat Langsung?

Matahari sebagai “reaktor nuklir” terbesar di Tata Surya, menghasilkan begitu banyak energi. Energi itu kemudian disebarkan ke seluruh penjuru semesta dengan cara radiasi. Salah satunya dalam bentuk radiasi gelombang elektromagnetik, atau secara umum disebut sebagai sinar matahari. Sinar matahari ini membentang mulai dari paling pendek dan berenergi tinggi yaitu sinar gamma, sedang seperti cahaya tampak yang kasat mata, hingga paling panjang dan berenergi rendah yaitu gelombang radio.

Bumi telah diciptakan sedemikian sempurna. Hingga mampu melindungi kehidupan manusia dengan menyerap dan memantulkan kembali kebanyakan sinar matahari yang berbahaya. Sinar matahari yang mampu mencapai permukaan bumi umumnya hanya yang memiliki energi sedang hingga rendah seperti cahaya tampak, inframerah hingga radio. Secara wajar semua akan aman bagi manusia.

Namun jika digunakan dengan tidak wajar atau berlebihan, pasti tidak akan baik. Seperti jika “menantang” mata yang begitu sensitif untuk menatap langsung ke sumber radiasi yaitu Matahari. Mata sebagai salah satu alat optik akan langsung memfokuskan semua radiasi yang diterima ke retina. Dan jika jumlahnya terlalu besar, maka akan berakibat buruk pada retina.

Lapisan matahari beserta peristiwa di dalamnya. Kredit: NASA.

Namun tidak semua lapisan matahari bertanggung-jawab dalam menyebarkan radiasi tersebut. Lapisan matahari terluar yang secara efektif meradiasikan energi adalah fotosfer. Yaitu lapisan yang biasa kita lihat sehari-hari bahkan kita anggap sebagai matahari itu sendiri. Terangnya lapisan fotosfer bahkan telah menghalagi kita untuk melihat lapisan diluarnya seperti korona dan kromosfer. Karena kedua lapisan terluar itu memang tidak menyebarkan radiasi secara efektif sehingga jauh lebih gelap.

Sampai di sini, kesimpulan pertama adalah: Matahari khususnya fotosfer berbahaya jika dilihat langsung.

Situasi Khusus yang Menyebabkan Matahari Aman Dilihat Langsung

Namun itensitas sinar matahari yang mencapai permukaan bumi pun tidak konstan. Adakalanya itensitas sinar matahari ke permukaan bumi terpaksa berkurang karena dihamburkan atau direfraksikan oleh atmosfer bumi ataupun peristiwa di dalamnya. Beberapa contoh situasi yang menyebabkan berkurangnya itensitas sinar matahari adalah saat matahari terbit atau terbenam.

Saat matahari terbit ataupun terbenam, maka sinar matahari harus melalui lapisan atmosfer yang lebih tebal dibanding jika berada di atas saat tengah hari. Tebalnya atmosfer memaksa sinar matahari mengalami refraksi atau penghamburan secara lebih intensif. Karena itu itensitas sinar matahari pun akan menurun drastis ketika terbit atau terbenam.

Pemandangan matahari menjelang terbenam yang aman untuk dilihat langsung. Kredit: Gigih Ikhbal.

Penurunan itensitas sinar matahari karena refraksi atmosfer bumi itulah yang menyebabkan begitu banyak orang terpesona dengan pemandangan matahari terbit ataupun terbenam. Karena ketika itu matahari bisa dilihat langsung. Dan langit pun menjadi begitu penuh warna karena terhambur oleh cahaya matahari.

Sampai di sini, kesimpulan kedua adalah: Matahari aman jika dilihat langsung asalkan terjadi pengurangan itensitas sinar matahari oleh atmosfer bumi.

Dengan menggabungkan kesimpulan pertama dan kedua, maka dapat ditarik kesimpulan akhir bahwa: Matahari khususnya fotosfer berbahaya dilihat langsung, jika tanpa pengurangan itensitas sinar matahari oleh atmosfer bumi. Kesimpulan terakhir inilah yang menjadi akar dari pemahaman bahaya atau tidaknya melihat matahari dan peristiwa terkait secara langsung.

Bagaimana Jika Gerhana Matahari Dilihat Langsung?

Gerhana matahari setidaknya dibedakan menjadi 3 macam dalam orientasi Bulan menutupi Matahari. Diantaranya yaitu gerhana matahari sebagian, cincin dan total. Pada gerhana matahari sebagian dan cincin, Bulan hanya akan menutupi sebagian fotosfer matahari. Sedangkan pada gerhana matahari total, Bulan akan menutupi seluruh fotosfer matahari.

Macam-macam gerhana matahari berdasarkan orientasi Bulan menutupi Matahari. Kredit: exploratorium.edu.

Dari kesimpulan pertama bahwa sejatinya fotosfer matahari yang berbahaya untuk dilihat langsung. Maka gerhana matahari sebagian dan cincin yang masih memperlihatkan fotosfer akan BERBAHAYA jika dilihat langsung. Sedangkan gerhana matahari total yang sama sekali tidak memperlihatkan fotosfer AMAN untuk dilihat langsung.

Dan dari kesimpulan kedua bahwa fotosfer matahari akan menjadi aman jika mengalami pengurangan itensitas sinar matahari oleh atmosfer bumi. Maka gerhana matahari sebagian dan cincin akan menjadi AMAN jika dilihat langsung saat matahari terbit ataupun terbenam. Sedangakan gerhana matahari total akan selalu AMAN jika dilihat langsung apapun situasinya.

Namun harus diketahui bahwa gerhana matahari total diawali dan diakhiri oleh gerhana matahari sebagian. Jadi sekalipun gerhana matahari total itu selalu aman untuk dilihat langsung, tetapi dengan durasi yang singkat hanya beberapa menit, maka melihatnya harus dilakukan dengan cepat. Yaitu sejak gerhana matahari total dimulai hingga menjelang gerhana matahari total berakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar