Berburu Kemewahan Meteor Leonids di Antara Awan Mendung

Meteor Leonids pada waktu puncak hujan meteor Leonids tahun 2009. Kredit: Wikipedia.
Meteor Leonids pada waktu puncak hujan meteor Leonids tahun 2009. Kredit: Wikipedia.

Memasuki pertengahan bulan November ini, langit sudah mulai sering disinggahi awan mendung. Tak jarang awan mendung itu pun berubah jadi hujan atau setidaknya sekedar gerimis. Di awal musim penghujan seperti ini, melihat keindahan langit malam yang berhiaskan ribuan bintang akan menjadi semakin sulit.

Namun, karena kesulitan itu pula, jika bisa melihat perhiasan malam akan sangat mewah rasanya. Kemewahan itu barangkali akan semakin terasa dengan berlangsungnya hujan meteor Leonids saat ini. Jika berhasil melihat satu-dua meteor melesat dari sela-sela awan tentu akan sangat spesial rasanya.

Hujan Meteor Leonids
Hujan meteor leonids adalah fenomena tahunan yang terjadi antara tanggal 15-20 November dimana puncaknya terjadi anatara tanggal 17-18 November setiap tahunnya. Penyebabnya tidak lain adalah karena setiap pada tanggal tersebut, Bumi akan melintasi orbit komet 55P / Tempel Tuttle. Di orbit komet tersebut, Bumi akan dihujani oleh debu padat yang tertinggal kala komet melintas. Debu tersebut kemudian akan menerjang atmosfer bumi dan terbakar didalamnya.

Hujan meteor Leonids merupakan hujan meteor yang telah dikenal berabad-abad lalu dengan itensitasnya yang fluktuatif. Umumnya setiap tahun hujan meteor Leonids akan menghasilkan antara 20-30 meteor tiap jam waktu puncak. Namun kala komet mendekat, atau kala Bumi melintasi orbit yang padat akan debu komet, maka itensitasnya akan meningkat hingga menghasilkan badai meteor yang sangat kuat.

Setidaknya antara tahun 1999, 2001 dan 2002 hujan meteor Lenonids tercatat menghasilkan hingga 3.000 meteor tiap jam waktu puncak. Bahkan hujan meteor Leonids pun pernah “menggebrak” dunia dengan badai meteor terkuat sepanjang sejarah dengan itensitas hingga 150.000 meteor tiap jam pada tahun 1966.

Hujan Meteor Leonids Tahun 2014
Di tahun 2014 ini, hujan meteor Leonids pun akan kembali terjadi. Sebagaimana pada tahun-tahun lalu, hujan meteor Leonids akan berlangsung antara tanggal 15-20 November 2014 dimana puncaknya terjadi pada 17-18 November 2014.

Pada tahun ini, hujan meteor Lenonids diperkirakan kembali akan menjadi “anak baik-baik” dengan hanya menghasilkan 20-30 meteor tiap jam waktu puncak. Meski demikian, puncak hujan meteor Leonids tahun ini akan didukung dengan minimnya gangguan terang bulan karena Bulan tengah fase sabit akhir.

Bukannya menggangu, bulan sabit malah akan mempercantik langit setelah tengah malam. Tak hanya berhiaskan bulan sabit, langit setelah tengah malam juga akan diramaikan dengan planet Jupiter yang akan terlihat sebagai bintang putih terang bermagnitudo -2,2 di langit timur.

Hujan meteor Leonids ini juga dapat di saksikan di seluruh belahan dunia, termasuk diantaranya seluruh Indonesia. Dengan begitu tidak perlu ditanya lagi dimana hujan meteor ini bisa disaksikan karena seluruh tempat bisa.

Radian Hujan meteor Leonids

Map radian hujan meteor Leonids pada 17 November 2014 pukul 03:00 waktu setempat. Kredit: Cyber Sky.
Map radian hujan meteor Leonids pada 17 November 2014 pukul 03:00 waktu setempat. Kredit: Cyber Sky.

Sebagaimana namanya, hujan meteor Leonids memiliki radian atau pusat di rasi Leo. Dengan begitu, meteor-meteor Leonids akan terlihat melesat dari arah rasi Leo. Namun harus diingat kembali, meski arahnya dari rasi Leo, meteor-meteor Leonids bisa terlihat di langit bagian mana saja, tidak hanya di sekitar rasi Leo.

Pada waktu puncaknya nanti, rasi Leo berada di timur setelah tengah malam hingga menjelang matahari terbit. Dan tidak hanya sebagai letak radian, rasi Leo juga nanti akan menjadi tempat bagi planet Jupiter dan bulan sabit. Jadi pada puncaknya nanti akan terlihat pemandangan “3 in 1” di rasi Leo.

Cara Mengamati Hujan Meteor Leonids
Sebagaimana hujan meteor pada umumnya, hujan meteor Leonids bisa disaksikan secara langsung tanpa teleskop ataupun binokuler. Tujuannya adalah supaya didapatkan medan pandang yang seluas-luasnya. Menggunakan teleskop atau binokuler malah akan membatasi medan pandang.

Dengan alasan medan pandang pula, sebaiknya cari tempat pengamatan yang lapang. Hindari tempat yang dikelilingi pohon ataupun bangunan tinggi. Semakin luas langit yang bisa terlihat, semakin besar pula kesempatan untuk melihat meteor.

Selain itu usahakan juga mencari tempat yang minimal polusi cahayanya. Atau minimal hindari paparan cahaya lampu, baik lampu jalan ataupun lampu handphone. Berikan kesempatan pada mata untuk beradaptasi pada lingkungan yang gelap.

Selesai. Jika dirasa perlu bawa juga mantel hangat karena di awal musim hujan seperti ini udara cukup dingin dan mulai terbentuk banyak embun. Aku ga mau kamu sakit. Eeaaa. *Gerakan mimin peduli jomblo* Hihihi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar