Hujan Meteor Orionids Bakal Maksimal Tahun Ini

Meteor Orionid di Shanghai, China tahun 2009. Kredit: Jefferson Teng
Meteor Orionid di Shanghai, China tahun 2009. Kredit: Jefferson Teng

Di bulan Oktober ini Indonesia mengalami musim pancaroba dimana terjadi peralihan antara musim kemarau menuju musim penghujan. Maka akan sangat wajar jika langit yang biasanya sangat terik kini mulai disinggahi oleh mendung meski tak sampai turun hujan. Di penghujung musim kemarau ini pula, sepertinya langit ingin memberi kenang-kenangan perpisahan yang berkesan kepada pecintanya sebelum dia lenyap dalam selimut awan tebal di musim penghujan.

Kenang-kenangan perpisahan itu tidak lain adalah hujan meteor Orionids yang akan mencapai puncaknya pada akhir bulan Oktober ini. Kabar baiknya pada saat puncak nanti, Orionids diperkirakan akan cukup banyak memperlihatkan meteor-meteor cantiknya karena didukung oleh kondisi yang ideal. Dan tentu saja, kenang-kenangan penuh kesan dari musim kemarau ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.


Penyebab Hujan Meteor Orionids

Aktifitas hujan meteor Orionids pertama kali tercatat pada bulan Oktober tahun 1839 oleh E.C. Herrick. Pengamatan pada tahun-tahun berikutnya menunjukkan bahwa hujan meteor Orionids merupakan fenomena periodik atau berulang pada tanggal yang sama setiap tahunnya. Hujan meteor Orionids aktif antara tanggal 16 - 27 Oktober, dengan puncaknya antara tanggal 21 - 22 Oktober.

Kini telah diketahui bahwa hujan meteor Orionids menjadi fenomena periodik berhubung Bumi secara periodik melintasi orbit Komet Halley. Di dalam orbit Komet Halley itu pula terdapat begitu banyak remah-remah komet berupa debu dan kerikil yang ditinggalkan komet kala melintas. Ketika Bumi melintasi orbit komet tersebut, praktis remah-remah komet akan segera menghantam Bumi dengan cepat. Beruntung Bumi diliputi oleh atmosfer yang mampu menahan laju meteor dan membakarnya hingga tidak, atau sangat jarang, sampai ke permukaan bumi.

Jadi, dengan karunia dariNya berupa atmosfer bumi, sesuatu yang seharusnya menjadi mara bahaya malah berubah menjadi pemandangan yang menawan.


Radian Hujan Meteor Orionids

Radian hujan meteor Orionids. Via: Cybersky.
Radian hujan meteor Orionids. Via: Cybersky.

Sebagaimana namanya, hujan meteor Orionids memiliki radian atau pusat di Rasi Orion. Oleh karena itu meteor-meteor Orionids nantinya dapat dikenali dengan melihat arah gerakannya yang berasal dari arah Rasi Orion. Namun harus dipahami meski arahnya dari Rasi Orion, meteor-meteor Orionids tetap mungkin muncul di langit sebelah mana saja, tidak hanya di arah Rasi Orion saja.

Selain menentukan arah gerak meteor, letak radian juga menjadi penentu seberapa besar itensitas suatu hujan meteor. Semakin tinggi letak radian di langit, maka semakin optimal pula itensitas suatu hujan meteor. Beruntung saat puncak hujan meteor Orionids, letak Rasi Orion berada di zenit atau tepat di atas kepala saat fajar jika dilihat dari Indonesia. Dengan begitu hujan meteor Orionids akan benar-benar maksimal jika diamati di Indonesia.


Orionids yang Konsisten Menghasilkan Meteor hingga Fireball

Orionids bukanlah hujan meteor yang menjanjikan sangat banyak meteor hingga menghasilkan badai meteor pada saat puncaknya. Orionids pun bukan hujan meteor yang mengecewakan dengan menghasilkan terlalu sedikit meteor.

Hujan meteor Orionids merupakan salah satu hujan meteor dengan itensitas relatif konstan. Tidak terlalu banyak, tapi juga tidak terlalu sedikit. Umumnya itensitas Orionids berkisar antara 20-25 meteor/jam saat puncak setiap tahunnya. Meski demikian, Orionids juga dapat mengalami peningkatan itensitas meski kisarannya hanya antara 40-70 meteor/jam pada puncaknya.

Hujan meteor Orionids yang berpusat di Rasi Orion sepertinya benar-benar memainkan peran sebagai sang pemburu sekaligus pria sejati: Tidak menjanjikan harapan, namun tidak akan mengecewakan.

Benar, hujan meteor Orionids tidak akan mengecewakan. Meski hanya diam dengan itensitas yang sedang-sedang saja, namun siapa sangka bahwa hujan meteor Orionids tercatat sebagai peringkat ke-3 penghasil fireball atau meteor terang terbanyak setidaknya dalam 5 tahun terakhir. Catatan ini dirilis resmi oleh NASA yang telah melakukan pengamatan fireball dari setiap hujan meteor antara tahun 2008-2013.

Grafik jumlah fireball tiap hujan meteor tahun 2008 hingga 2013. Kredit: NASA.
Grafik jumlah fireball tiap hujan meteor tahun 2008 hingga 2013. Kredit: NASA.

Di peringkat pertama adalah hujan meteor Perseids yang mencapai puncak pada 12-13 Agustus tiap tahunnya. Sedangkan di peringkat kedua diduduki oleh hujan meteor Geminids yang mencapai puncak pada 13-14 Desember setiap tahunnya.

Yang menarik adalah, hujan meteor Orionids yang itensitasnya hanya 20-25 meteor/jam ternyata mampu menghasilkan banyak fireball dan bersaing sengit dengan hujan meteor Perseids dan Geminids yang terkenal beritensitas tinggi di atas 100 meteor/jam pada puncaknya! Bahkan saudara kandungnya, hujan meteor Eta Aquarids yang juga berasal dari komet Halley dan beritensitas rata-rata 60 meteor/jam tertinggal jauh di peringkat ke-5.

Dengan begitu jika NASA menampilkan grafik fireball tiap hujan meteor bukan berdasarkan jumlah fireball melainkan berdasarkan rasio fireball atau perbandingan jumlah fireball dibagi jumlah keseluruhan meteor dari tiap hujan meteor, maka hujan meteor Orionids bisa menjadi "parlente" yang memimpin di puncak klasemen dan sangat sulit terkalahkan!


Aktivitas Hujan Meteor Orionids pada Tahun 2014

Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, hujan meteor Orionids akan berlangsung antara tanggal 16-27 Oktober 2014, dimana puncaknya terjadi antara tanggal 21-22 Oktober 2014. Pada puncaknya, hujan meteor Orionids tahun 2014 kembali diperkirakan akan beritensitas sekitar 20 meteor/jam.

Penampakan meteor-meteor Orionids kala puncaknya tahun 2014 ini juga akan didukung dengan sedikitnya gangguan polusi cahaya dari Bulan karena fasenya sedang sabit tua mendekati fase bulan baru. Sebaliknya, bulan sabit malah akan menambah pesona langit malam kala puncak hujan meteor Orionids berlangsung.

Dengan ketiadaan gangguan polusi cahaya dari Bulan dan letak radian yang ada di zenit kala fajar di Indonesia, tentu hujan meteor Orionids akan maksimal memperlihatkan meteor-meteornya hingga yang redup sekalipun pada puncaknya nanti.


Cara Mengamati Hujan Meteor Orionids

Sebagaimana hujan meteor lainnya, pengamatan hujan meteor Orionids akan sangat baik jika dilakukan dengan mata telanjang. Alasannya karena untuk melihat meteor yang entah akan muncul disebelah mana, dibutuhkan medan pandang yang seluas-luasnya. Penggunaan binokuler dan teleskop malah akan membatasi medan pandang yang sangat dibutuhkan tersebut.

Masih dengan alasan yang sama, pengamatan hujan meteor Orionids sebaiknya dilakukan di tempat yang lapang dimana tidak ada pohon, bangunan dan lainnya yang akan menghalangi medan pandang. Semakin luas langit yang bisa terlihat, maka semakin banyak pula meteor yang bisa terlihat.

Pengamatan sebaiknya dilakukan pada saat radian hujan meteor Orinids berada di ketinggian maksimum yakni pada waktu fajar antara pukul 03:00 s/d 04:00 waktu setempat. Meski begitu pengamatan tetap bisa dilakukan sebelum dan sesudahnya sebelum matahari terbit.

Dan terakhir, bersabarlah untuk bisa melihat meteor-meteor Orionids. Meski disebut "hujan meteor" nyatanya meteor yang nantinya bisa terlihat tidaklah sebanyak tetesan air pada hujan sungguhan. Meteor akan terlihat satu per satu, dimana jeda waktu antar meteor terkadang cukup lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar