Hujan Meteor Perseids di Bawah Sinar Rembulan

Meteor Perseids pada 1 Agustus 2014. Kredit Eddie Popovits.
Meteor Perseids pada 1 Agustus 2014. Kredit Eddie Popovits.

Ketika komet mengorbit cukup dekat dari Matahari, inti komet akan terpanasi dan senyawa mudah menguap di inti komet berubah wujud menjadi gas. Gas yang terbentuk kemudian akan mendobrak keluar dan melontarkan material padat dari kerak komet hingga keduanya membentuk ekor komet. Ekor gas pada akhirnya akan hilang tersapu angin surya. Dan yang tersisa hanya ekor debu dari remah-remah kerak komet berupa batu kerikil yang berserakan di sepanjang orbit komet.

Jika orbit komet berada dekat orbit Bumi, maka secara berkala Bumi akan menerjang remah-remah komet tersebut. Namun remah komet yang melaju cepat ke arah Bumi tidak akan langsung menghujam muka Bumi, melainkan akan ditahan oleh atmosfer terlebih dahulu. Ini menyebabkan energi kinetik dari remah-remah komet berubah menjadi energi panas yang membakarnya dengan cepat. Dengan begitu, bukannya mara bahaya, yang akan terjadi malah pemandangan menakjubkan dari terbakarnya remah-remah komet sebagai hujan meteor.

Ilustrasi Bumi akan memasuki orbit komet yang penuh puing-puing. Kredit Kalastro.
Ilustrasi Bumi akan memasuki orbit komet yang penuh puing-puing. Kredit Kalastro.

Setiap tahun pada 17 Juli hingga 24 Agustus, Bumi akan melintasi orbit komet Swift-Tuttle. Akibatnya, remah-remah komet Swift-Tuttle akan menghujani Bumi dan menyebabkan terjadinya hujan meteor Perseids. Bumi akan melintasi bagian terpadat dari remah-remah komet Swift-Tuttle setiap antara tanggal 11 - 13 Agustus. Praktis hujan meteor Perseids juga akan mencapai puncaknya antara tanggal tersebut.

Tahun 2014 pun remah-remah komet Swift-Tuttle akan kembali menghujani Bumi. Fakta menarik adalah bahwa yang akan menghujani Bumi tahun ini bukanlah remah-remah terbaru dari sang komet, melainkan remah-remah yang dihasilkan sang komet 1.000 tahun yang lalu. Ini artinya besar itensitas hujan meteor Perseids tahun ini akan ditentukan oleh seberapa aktif komet Swift-Tuttle menghasilkan ekor debu 1.000 tahun yang lalu.

Pada tahun 2014, hujan meteor Perseids diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 13 Agustus 2014 waktu dini hari dengan itensitas hingga 100 meteor tiap jamnya. Meski demikian, Bulan yang baru meninggalkan fase purnama diperkirakan masih terlalu terang untuk mengizinkan meteor-meteor redup dapat terlihat. Dengan memperhitungkan efek polusi cahaya dari Bulan, diperkirakan puncak hujan meteor Perseids hanya akan dihiasi oleh 30 meteor tiap jamnya.

Namun jangan berkecil hati. Hujan meteor Perseids adalah hujan meteor yang tercatat paling banyak menghasilkan meteor terang atau fireball dibanding hujan meteor lainnya. Fakta inilah yang didapat oleh NASA selama pengamatan fireball dari hujan meteor periodik antara tahun 2008 – 2013. Menyusul di peringkat kedua adalah hujan meteor Geminids yang terjadi pada pertengahan bulan Desember setiap tahunnya.

Grafik perbandingan jumlah fireball dari masing-masing hujan meteor. Kredit NASA.
Grafik perbandingan jumlah fireball dari masing-masing hujan meteor. Kredit NASA.

Sayangnya di Indonesia hujan meteor Geminids termasuk yang paling sulit diamati. Ini dikarenakan saat puncak hujan meteor Geminids, Indonesia sedang dalam pertengahan musim penghujan. Jangankan hanya meteor, Matahari pun akan sulit terlihat diantara kumpulan awan-awan. Praktis bagi siapa yang tertarik untuk menyaksikan sendiri fireball, hujan meteor Perseids tidak boleh dilewatkan.

Dan tak hanya itu, selain paling banyak, rata-rata fireball dari hujan meteor Perseids juga paling terang dibanding fireball dari hujan meteor lainnya. Fireball dari hujan meteor Perseids rata-rata mampu menembus magnitudo -2,7 atau setara 3 kali terang bintang Sirius sekalipun. Menyusul di peringkat berikutnya lagi-lagi adalah hujan meteor Geminids dimana fireballnya rata-rata bermagnitudo -2.

Ilustrasi rasi Perseus di langit utara menjelang pagi pada 11 Agustus 2014. Kredit Stellarium.
Ilustrasi rasi Perseus di langit utara menjelang pagi pada 11 Agustus 2014. Kredit Stellarium.

Sebagaimana namanya, hujan meteor Perseids memiliki titik asal di rasi Perseus yang berada di langit utara. Oleh karena itu meteor-meteor Perseids akan terlihat bergerak dari arah utara menuju segala arah. Rasi Perseus mulai terbit sekitar waktu tengah malam sehingga pengamatan hujan meteor Perseids sudah bisa dilakukan sejak waktu tersebut.

Sebagaimana hujan meteor pada umumnya, hujan meteor Perseids pun akan dapat disaksikan di seluruh Indonesia bahkan dunia. Untuk menyaksikan hujan meteor Perseids sebaiknya mencari tanah lapang demi mendapat medan pandang seluas-luasnya. Dan untuk tujuan yang sama, mengamati dengan mata telanjang adalah pilihan terbaik. Selebihnya, tinggal bersabar menunggu satu persatu meteor-meteor Perseids melesatan di langit.