Bulan Purnama Terdekat dalam 3 Tahun Terakhir

Supermoon pada 23 Juni 2013 di Siberia, Russia oleh Vitaly Semkin.

Orbit Bulan mengelilingi Bumi tidaklah bulat sempurna, melainkan berbentuk elips dimana Bumi berada di salah satu titik fokus elips tersebut. Bentuk orbit yang demikian memaksa Bulan untuk berada pada jarak yang berbeda-beda dari Bumi setiap waktu. Dalam satu periode orbit, Bulan akan sekali mencapai titik terdekat (Perigee) dan sekali mencapai titik terjauh (Apogee) dari Bumi.

Tak hanya itu, jarak Perigee maupun Apogee antar periode orbit Bulan pun bervariasi. Ada kalanya Perigee pada periode orbit saat ini akan sedikit lebih dekat dari Perigee pada periode orbit sebelumnya. Ada kalanya juga akan lebih jauh. Begitupun pada Apogee. Meski demikian, perbedaannya hanya berkisar hingga ribuan kilometer saja.


Bentuk orbit Bulan mengelilingi Bumi diilustrasikan oleh Kalastro.

Pada hari Senin, 11 Agustus 2014 pukul 00:49 WIB Bulan akan kembali mencapai Perigee. Jarak Bulan ke Bumi saat itu adalah 356.896 km dan tercatat sebagai Perigee terdekat dalam 3 tahun terakhir sejak 20 Maret 2011. Sebagai perbandingan, jarak Perigee pada 13 Juli 2014 kemarin adalah 358.252 km atau 1.356 km lebih jauh. Perigee yang lebih dekat baru terjadi tahun depan pada 28 September 2015.

Yang menarik hanya berselang 20 menit setelah mencapai Perigee, pada 11 Agustus 2014 pukul 01:09 WIB, Bulan pun akan tepat mencapai fase purnama. Dengan Perigee terdekat dalam 3 tahun terakhir dan hanya berjarak 20 menit darinya, tentu ini akan menjadikan Bulan purnama nanti sebagai purnama yang terlihat lebih besar dan terang benderang dari biasanya.

Bulan purnama yang berada di Perigee seperti ini telah dikenal luas dengan istilah Supermoon. Meski dibubuhi kata “super” namun kenyataanya Bulan purnama nanti tidak akan jauh-jauh berbeda dari purnama pada umumnya. Supermoon tidak akan super dekat, tidak akan super besar, tidak akan super terang, tidak akan mengakibatkan bencana dan tidak akan mengenakan jubah bersayap sebagaimana Superman.

Pada saat purnama 11 Agustus 2014, diameter sudut Bulan akan mencapai 33,47’ atau sekitar 14% lebih besar dari Bulan purnama yang umum terjadi tahun 2014. Dengan begitu ukuran Bulan tidak akan terlalu kentara perbedaannya. Barangkali yang akan memikat adalah cahaya terang Bulan purnama yang nanti akan mencapai 30% lebih terang dari Bulan purnama pada umumnya.

Fenomena Supermoon sendiri bukanlah sesuatu yang langka. Di tahun 2014 saja diketahui Bulan purnama akan berada dekat Perigee sebanyak 3 kali. Yang pertama telah terjadi pada 12 Juli 2014, kedua akan terjadi pada 11 Agustus 2014 dan terakhir pada 9 September 2014.

Yang membedakan Supermoon di bulan Agustus ini dengan Supermoon di bulan lain pada tahun 2014 adalah jaraknya dari Bumi. Pada Supermoon 11 Agustus 2014, Bulan mencapai fase purnama hanya selang 20 menit dari perigee. Sedangkan pada Supermoon di bulan lain bisa mencapai selang 1 hari dari perigee. Selain itu, jarak perigee pada Supermoon 11 Agustus 2014 juga lebih dekat dari jarak perigee pada Supermoon di bulan lain. Praktis ini akan menjadikan Supermoon 11 Agustus 2014 sebagai sang jawara tahun ini.

Mengikuti pola Perigee, Supermoon 11 Agustus 2014 juga akan menjadi Supermoon terbesar dan terterang dalam 3 tahun terakhir sejak 20 Maret 2011. Sedangkan tandingannya baru akan datang tahun depan pada 28 September 2015. Kini telah diketahui pola seperti ini akan berulang tiap 13 bulan 18 hari sekali.

Meski demikian, Supermoon tahun depan tidak akan sebaik tahun ini bagi pengamat di Indonesia. Ini dikarenakan pada Supermoon tahun 2015, Bulan mencapai Perigee dan fase purnama pada siang hari. Berbeda dengan Supermoon tahun ini, dimana Indonesia mendapat kesempatan terbaik karena Bulan mencapai Perigee dan fase purnama saat tengah malam.