Bintang “Berjalan” di Langit Fajar dan Senja

Apakah kalian penikmat fajar ataupun senja? Pemandangan mentari yang perlahan terbit ataupun tenggelam adalah pentas penuh kesan dari alam. Di latar panggung, hadir langit yang bersolek mempercantik diri dalam riasan warna-warni. Semakin menengadah ke atas degradasi warna riasan langit kian halus laksana permadani. Burung-burung dan seluruh hewan berlarian mengambil posisi. Daun-daun mengatup dan mengembang ikut menari.

Senja pada 1 Juli 2014 di Mojokerto, Indonesia. Kredit: Gigih Ikhbal.

Dan jika diamati kala itu awan-awan yang letaknya begitu tinggi akan lebih dulu tampil bersinar terkena cahaya sebelum matahari terbit kala fajar. Sebaliknya ketika senja awan-awan tinggi masih terkena cahaya seusai matahari terbenam. Tak hanya itu. Di kubah langit pun kerap terlihat bintang “berjalan” melintas di antara bintang-bintang lainnya yang relatif diam. Bintang itu tidak bergerak secepat meteor. Bintang itu juga tidak berkedip seperti suatu pesawat. Bintang apakah itu sebenarnya?

Untuk menjawabnya dapat dilakukan pengamatan secara langsung dengan teleskop atau binokuler untuk menangkap citra dari si bintang misterius tersebut. Cara semacam ini sudah pernah dilakukan setidaknya oleh Astronom Theirry Legault pada 20 Desember 2010. Theirry Legault mengambil citra si bintang “berjalan” ketika bintang tersebut transit atau melintas di depan piringan bulan purnama.

Ya, bintang misterius tersebut “berjalan” melintas di antara Bumi dan Bulan. Dengan kata lain, obyek tersebut bukanlah bintang sama sekali. Tentu saja, tak ada seorang pun yang mengharapkan bintang seperti Matahari berada lebih dekat ke Bumi dibanding Bulan sekalipun bukan? Kiamat! Itu yang akan terjadi pada Bumi jika demikian.

Berikutnya, kandidat objek yang paling mungkin berada di antara Bumi dan Bulan tentu adalah asteroid dan satelit buatan manusia. Tapi asteroid yang melintas dekat dengan Bumi bukan sesuatu yang terjadi setiap hari. Praktis kandidat yang tersisa hanya satu. Yaitu satelit buatan manusia yang memang sengaja diorbitkan dekat Bumi.

Hal inipun dibuktikan oleh citra bintang “berjalan” yang berhasil diabadikan oleh Theirry Legault. Foto yang dirilisnya menunjukkan bintang “berjalan” tersebut berbentuk sebagaimana satelit pada umumnya. Bukan asteroid, apalagi bintang.

ISS melintas depan bulan purnama pada 20 Desember 2010. Kredit Theirry Legault.

Dalam beberapa dekade terakhir manusia telah mengorbitkan begitu banyak satelit ke luar angkasa. Fungsinya pun beraneka, mulai dari untuk pemantau cuaca, penunjuk arah, hingga militer. Tak khayal mendapati satelit yang sedang asik “berjalan-jalan” di langit menjadi sesuatu yang sangat wajar. Bahkan dalam satu waktu bisa terlihat hingga beberapa satelit yang tengah “melancong” entah ke mana.

Satelit bukanlah suatu obyek yang mampu menghasilkan cahaya sendiri. Satelit terlihat bersinar lantaran dirinya memantulkan cahaya dari Matahari. Oleh karena itu persentase pencahayaan Matahari, luas permukaan satelit yang akan memantulkan cahaya Matahari, albedo atau daya memantulkan cahaya dari permukaan tersebut dan jaraknya dari Bumi akan menjadi variabel kecerlangan tiap satelit.

Terkadang juga suatu satelit terlihat mengalami peningkatan kecerlangan secara mendadak dan hanya bertahan dalam beberapa detik. Ini diakibatkan oleh desain satelit itu sendiri yang tidak berbentuk bola-pepat sehingga luas medan pemantul cahaya Matahari akan berubah-ubah. Dengan begitu jika pada suatu waktu ada bagian satelit yang cukup luas dan miliki nilai albedo tinggi (misalnya panel surya dan antena) sedang mengarah antara Matahari dan pengamat, maka satelit pun akan mengalami peningkatan kecerlangan yang signifikan. Peristiwa ini biasa disebut suar satelit atau satellite flare.

Ilustrasi Iridium Flare. Kredit: apolo11.com.

Pada umumnya satelit akan bersinar tidak kurang dari magnitudo nol. Hanya satelit besar dan dekat seperti Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS)-lah yang mampu menembus magnitudo negatif, bahkan bisa lebih terang dari Planet Venus. Jadi seakan berburu Venus berjalan, seperti itulah rasanya berburu satelit terang di langit. Dan untuk mengetahui jadwal perlintasan satelit yang bisa terlihat kita bisa mencari informasi pada berbagai website dan aplikasi terkait.

Baca juga: Mari Berburu Satelit, Si Bintang "Berjalan"

Namun bagi yang ingin mencoba peruntungan berburu satelit tanpa bantuan info dari website atau aplikasi, maka ada baiknya berburu satelit saat fajar ataupun senja. Pada waktu itulah satelit paling mungkin terlihat melintas. Sedangkan pada waktu tengah malam, satelit akan sangat jarang terlihat.

Ini bukan tanpa alasan. Pasalnya pada saat tengah malam, pengamat akan berada di tengah bayangan umbra Bumi. Seluruh obyek yang melintas di atas pengamat pun akan memasuki umbra Bumi. Praktis, saat itu satelit tidak akan terlihat bersinar karena memang tidak terkena sinar Matahari.

Ilustrasi letak pengamat dan satelit di atasnya saat tengah malam. Kredit: kalastro.id.

Ilustrasi letak pengamat dan satelit di atasnya saat tengah malam - diperbesar. Kredit: kalastro.id.

Sedangkan ketika fajar misalnya, pengamat akan dibawa pergerakan rotasi Bumi ke tepi umbra Bumi untuk menyongsong Matahari. Yang menarik adalah, makin tinggi suatu obyek di atas pengamat, maka obyek itu akan lebih dulu tersinari Matahari. Oleh karena itu satelit yang melintas di atas pengamat akan lebih dulu tersinari Matahari dan kembali terlihat bersinar ketika menjelang fajar. Setelah itu barulah disusul oleh awan yang mulai bersinar sebagai semburat fajar. Dan tak lama kemudian, barulah menyusul sang pengamat tersinari oleh Matahari dan akan disaksikannya sebagai peristiwa Matahari terbit.

Ilustrasi letak pengamat dan satelit di atasnya saat fajar. Kredit: kalastro.id.

Ilustrasi letak pengamat dan satelit di atasnya saat fajar - diperbesar. Kredit: kalastro.id.

Hal sebaliknya terjadi ketika senja. Pada saat itu, pengamatlah yang berada di garis terdepan untuk memasuki tepian umbra Bumi. Semakin tinggi obyek di atas pengamat, akan lebih akhir memasuki umbra Bumi kemudian lenyap karena tak tersinari oleh Matahari. Itu artinya saat senja berangsur-angsur kita akan melihat Matahari tenggelam, kemudian awan-awan perlahan ikut berubah kelam dan semakin larut malam satelit-satelit akan semakin jarang terlihat.

9 komentar:

  1. Thnks pencerahanny gan.. rasa penasaranku akhirny usai sdah.. hahah soalny ak sdang asik ngeliat lebatny bintang . Ak trkejut ad bintang 2 sekaligus brgerak/jlan tp kdua bintang itu dtg dri brbeda arah ak kira bintang jtuh klo bntg jtuh koq gk jtuh2 klo pesawat koq lmpunya gk kdap kdip (suara pun tidk ada) ..UVO kli :-) dri situ aku mulai penasaran dan hti ku gelisah krna kepikiran truss lgsung gua tnya ke orang" mlah ditawai "itu pesawat" y udh deh nyoba cri di mbah google .. nemu artikel agan secara tergesa" aku klik akhirny.....


    Mksih gann... Bermanfaaf sekali��������

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan senang hati.. Nanti coba sesekali berburu satelit misal ISS deh. Pasti keren. Tapi sebelum itu cari tau dulu kapan jadwalnya ya.

      Hapus
  2. Pastinya klo di pegunungan pagi hari antara jam 5 - 9 pagi. Fenomena ini banyak sekali satelit berjalan. Malah seperti berurutan. Sepanjang mata melihat ke langit. Pasti keliatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di pegunungan memang langitnya gelap. Jadi lebih mudah terlihat.

      Hapus
  3. Kalo bigitu arah pergerakannya dari timur ke barat/ sebaliknya..Bagaimana kalo arah pergerakannya dari selatan ke Utara terus menghilang ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Satelit buatan itu berbeda dengan satelit alam seperti bulan. Pergerakan satelit buatan tidak selalu melintang tapi bisa juga membujur. Tergantung bagaimana orbit yang telah ditentukan. Jadi bisa saja kita melihat satelit buatan bergerak dari selatan ke utara.

      Hapus
  4. Itu bukan satelit .knp ? Karna menjelang fajar bintang akan terbenam sebagian. Tadi subuh saya melihat bintang dari arah berlawanan utara dan selatan bertemu di atas penglihatan saya yg sangat tinggi.tak lama kemudian ada satu bintang lagi seperti memotret 3x sangat terang.dan tak lama kemudian dari arah selatan muncul bintang berjalan dan sangat besar, dekat, dan terang berjalan lambat menuju utara dan saya rekam dengan pansel saya.dan anehnya ponsel saya menangkap cahaya bintang berjalan itu dengan jelas.biasanya saya merekam bintang dengan ponsel saya pun tak menangkap dengan jelas.jika mau mencoba ,silahkan ponsel anda merekam bintang yg tak bergerak, itu sebagian dari bintang tersebut tak nampak di kamera ponsel anda.jawabannya cari di alqur'an tentang bintang (al-buruj) dll insyaallah anda bisa paham trima kasih min...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bintang memang bergerak. Tapi karena letaknya yang sangat jauh maka pergerakannya sangat lambat. Bahkan untuk berpindah satu derajat saja bintang butuh ratusan sampai ribuan tahun. Sehingga jika kita hanya melihat bintang sekilas saja tidak akan terlihat pergerakannya. Jadi apa yang kita lihat bergerak itu tidak mungkin bintang.

      Hapus
  5. Apakah satelit punya jalurnya sendiri..?sebab seringkali saya melihat,ada yang ke arah utara,ada juga sebaliknya ke rah selatan.

    BalasHapus