Lyrids, Hujan Meteor Pertama di Musim Kemarau

Meteor Lyrid dan Piringan Galaksi Bima Sakti oleh Tony Rowell.

Hujan meteor adalah salah satu peristiwa astronomis yang paling dinanti. Bagaimana tidak, peristiwa ini mencakup seluruh bagian Bumi. Tidak terbatas seperti peristiwa gerhana bulan atau matahari. Semua orang di belahan Bumi manapun bisa melihatnya pada malam hari.

Pengamatannya juga tidak memerlukan peralatan khusus seperti binokuler atau teleskop. Cukup mata telanjang untuk memperoleh medan pandang yang luas. Menanti satu per satu meteor jatuh bersama teman atau keluarga menjadi momen yang sangat berharga.

Terakhir kali hujan meteor terjadi pada awal bulan Januari lalu. Yaitu hujan meteor Quadrantids. Sudah cukup lama. Sayangnya waktu itu curah hujan sedang tinggi. Mendung dimana-mana. Kebanyakan pengamatan gagal karenanya. Intensitas hujan meteor Quadrantids yang mencapai 130 meteor/jam pun terlewat begitu saja.

Mendung memang menjadi masalah serius. Terutama di musim penghujan. Jangankan meteor, Matahari saja tidak bisa menembus awan tebal hitam menjelang hujan. Karena itu musim kemarau dengan langit cerahnya menjadi sangat didambakan jika ada peristiwa astronomis seperti hujan meteor.

Kabar baiknya, yang dinanti dan didamba akhirnya tiba. Memasuki awal musim kemarau ini, hujan meteor Lyrids akan mencapai puncaknya. Inilah hujan meteor pertama di musim kemarau. Musimnya langit cerah. Musimnya para pecinta langit berbintang.

Hujan meteor Lyrids adalah peristiwa tahunan yang terjadi setiap tanggal 16 – 25 April. Puncaknya terjadi pada tanggal 22 – 23 April. Yang membedakan tiap tahunnya adalah itensitas hujan meteor ini dan faktor polusi cahaya dari Bulan. Tahun 2014 diperkirakan akan terlihat hingga 20 meteor tiap jam waktu puncaknya. Paling baik diamati setelah tengah malam hingga menjelang matahari terbit.

Sepintas itensitas hujan meteor Lyrids memang tidak banyak. Namun aktifitas hujan meteor ini sudah teramati bahkan sebelum puncaknya. Di Rusia pada 19 April 2014 bahkan sempat terlihat fireball sangat terang yang diyakini bagian dari hujan meteor Lyrids. Tentu perpaduan antara meteor terang dan langit cerah membuat hujan meteor Lyrids terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.

Letak Orbit Komet Thatcher dan Planet-Planet Dalam pada 23 April 2014 Disimulasikan oleh CyberSky.

Hujan meteor Lyrids terjadi ketika Bumi melintas dekat orbit komet C/1861 G1 Thatcher. Di sepanjang orbit komet banyak berserakan puing peniggalan komet ketika melintas. Puing berupa material seukuran debu dan kerikil. Dengan begitu ketika Bumi melintasi orbit komet, puing-puing itu akan menabrak Bumi.

Ketika puing-puing itu melewati atmosfer, yang berukuran kecil akan terbakar menjadi meteor. Untuk yang berukuran sedang hingga besar akan terbakar sangat terang membentuk fireball, bahkan berpotensi meledak di udara.

Komet Thatcher memiliki periode orbit cukup lama. Sekitar 419 tahun. Terakhir kali komet Thatcher mencapai perihelion pada tahun 1861 dan baru akan kembali pada tahun 2280. Ketika perihelion inilah orbit komet Thatcher akan dipenuhi puing debu dan menyebabkan peningkatan aktifitas hujan meteor Lyrids.

Meski demikian, aktifitas hujan meteor Lyrids akan mengalami peningkatan bukan hanya 419 tahun sekali. Namun juga tiap 60 tahun sekali. Penyebabnya tiap 60 tahun Bumi akan melintasi bagian orbit komet Thatcher yang rapat akan debu.

Pada tahun 1982 dan 1922 hujan meteor Lyrids tercatat mengalami peningkatan aktifitas mencapai itensitas 90 meteor tiap jamnya. Itensitas hujan meteor Lyrids tertinggi yang pernah tercatat mencapai 700 meteor tiap jamnya pada tahun 1803.

Letak Rasi Lyra di Utara Ketika Subuh Waktu Setempat.

Ketika Bumi melintasi, orbit komet Thatcher terletak di arah rasi Lyra. Dengan begitu meteor-meteor akan terlihat melesat dari arah rasi Lyra saat hujan meteor Lyrids berlangsung. Rasi Lyra akan terbit di atar timur laut sejak pukul 22:00 waktu setempat. Rasi ini akan meninggi hingga ada di arah utara saat subuh waktu setempat.

Rasi Lyra bisa mudah ditemukan dengan lebih dulu mencari bintang putih terang di arah yang telah disebutkan. Bintang putih terang itu bernama Vega, bermagnitude 0,07 dan menjadi paling terang di rasi Lyra.

Meski arahnya dari rasi Lyra, namun meteor tersebut bisa jatuh di bagian langit mana saja. Entah utara, timur, barat, selatan atau bahkan di zenit atau tepat di atas kita. Jadi jangan hanya fokus ke arah utara saja, lihat juga bagian langit lainnya.

Meteor-meteor Lyrids umumnya mampu bersinar hingga magnitude +2. Setara terang bintang di asterisma Big Dipper. Meski demikian, kemungkinan adanya fireball yang mampu bersinar seterang planet Venus bahkan lebih masih terbuka lebar.

Pada waktu puncaknya nanti Bulan fase kuartir akhir akan turut menghiasi langit sesudah tengah malam. Cahaya Bulan akan cukup temaram sehingga tidak akan mengganggu pencarian meteor redup.

Tidak hanya itu, langit saat subuh juga akan diramaikan oleh planet Mars dan planet Saturnus di langit barat serta planet Venus yang sangat terang di langit timur. Bahkan jika langit cukup gelap, piringan galaksi Bima Sakti juga akan terlihat memanjang dari utara ke selatan. Pusat galaksi Bima Sakti berada di antara rasi Scorpius dan rasi Sagitarius yang saat menjelang subuh berada di atas kita.

Setelah Lyrids, hujan meteor berikutnya adalah Eta Aquarids yang mencapai puncaknya pada 8 Mei 2014. Selain itu pada 24 Mei 2014 juga akan terjadi hujan meteor baru berskala masif yang diperkirakan mampu menghasilkan hingga 400 meteor tiap jamnya bahkan lebih.