Komet Paling Terang Tahun 2014, Jacques?

Komet C2014 E2 Jacques pada 1 April 2014 oleh Damian Peach.

Memasuki tahun 2014 kita sudah “mengantongi” beberapa kandidat komet yang diperkirakan dapat terlihat langsung dalam kondisi langit ideal. Artinya langit harus gelap jauh dari polusi cahaya. Kandidat itu diantaranya adalah komet C/2012 K1 Panstarrs dan C/2013 V5 Oukaimeden.

Meski dapat terlihat langsung, namun semua kandidat komet itu sama sekali tidak terang. Pada puncak kecerlangannya, diperkirakan komet-komet tersebut hanya akan mencapai magnitude sekitar +5. Sangat redup untuk skala mata manusia. Apalagi jika tak mampu menemukan langit yang ideal.



Ini tentu membuat pecinta komet kecewa. Terlebih tahun lalu kita sudah dimanja oleh banyak komet terang. Sebut saja diantaranya C/2011 L4 Panstarrs dan C/2012 S1 ISON yang sangat fenomenal. Komet ISON bahkan sempat menyentuh magnitude negatif sebelum hancur di perihelion.

Namun rasa kekecewaan tersebut sepertinya sudah cukup sampai disini. Pasalnya pada bulan Maret 2014 lalu telah ditemukan komet pendatang baru. Dari observasi berkelanjutan, komet ini mengalami peningkatan kecerlangan yang menggembirakan. Komanya terlihat besar dan terang. Kini diperkirakan komet ini akan cukup terang untuk dilihat secara kasat mata. Siapa gerangan komet itu?


Komet C/2014 E2 Jacques Ditemukan!!

Citra Koma Komet Jacques pada 13 Maret 2014 pleh Ernesto Guido, Nick Howes dan Martino Nicolini.


Tanggal 13 Maret 2014, sekumpulan tim peneliti di Observatorium SONEAR dekat Oliveira, Brazil berhasil menangkap citra obyek baur melonjong khas komet. Tim ini beranggotakan Cristovao Jacques, Eduardo Pimentel dan Joao Ribeiro. Dibantu oleh teleskop reflektor berukuran 0,45 m dan f/2,9 dilengkapi CCD.

Menanggapi temuan ini, tim di Observatorium Remanzacco segera melakukan pengamatan lebih lanjut. Melalui penggambungan 19 citra tanpa filter selama 30 detik yang diambil melalui teleskop 0,50 m dan f/6,8 dengan CCD, obyek ini dikonfirmasi sebagai komet yang memiliki koma sangat terang berukuran besar mencapai 2 arc minute. Komet ini kemudian disahkan bernama Jacques dengan kode C/2014 E2.

Komet Jacques memiliki orbit berbentuk hiperbola dengan eksentrisitas 1,000712. Ini artinya komet Jacques baru pertama kali memasuki tata surya bagian dalam setelah milyaran tahun bersemayam jauh di Awan Oort. Setelah kunjungan perdananya kali, komet Jaquest akan pergi tanpa pernah kembali. Kecuali ada gangguan gravitasi dari obyek lain yang merubah bentuk orbitnya.


Bentuk Orbit Komet Jacques Tampak Atas (Kiri) dan Tampak Samping (Kanan) Disimulasikan dengan Software C2A.

Komet Jacques akan mencapai jarak terdekat ke Matahari atau perihelion pada tanggal 2 Juli 2014. Meskipun saat perihelion nanti, komet Jacques terbilang masih sangat jauh dari Matahari. Jaraknya mencapai 98 juta km atau sedikit lebih dekat dibanding orbit planet Venus.

Pada 29 Agustus 2014 komet Jacques akan mencapai jarak terdekat ke Bumi atau perigee sejauh 87 juta km. Jarak yang sangat jauh sehingga tidak memberikan ancaman apapun pada Bumi.


Seberapa Terang Komet Jacques?

Kurva Perkiraan Kecerlangan Komet Jacques oleh Observatorium Crni Vrh


Dengan perihelion juga perigee yang begitu jauh, komet ini memang tak dijagokan sebagai komet terang. Ketika pertama ditemukan magnitudenya hanya +11. Rasanya terlalu jauh jika komet ini harus “melompat” melewati batas pengelihatan manusia, yaitu magnitude +6, ketika perihelion nanti. Perkiraan awal terang maksimum komet Jacques hanya mencapai magnitude +7 yang artinya tak bisa terlihat langsung.

Waktu berlalu. Tiga minggu setelah ditemukan, komet ini kembali diamati. Kali ini hanya dengan berbekal binokuler besar oleh seorang astronom amatir. Dan di luar perkiraan, kini komet Jacques sudah mencapai magnitude +9,5. Lompatan sangat jauh bagi komet yang masih berada sekitar 252 juta km dari Matahari.

Berita mengenai peningkatan kecerlangan komet Jacques yang begitu cepat segera menyeruak. Kurva cahaya komet Jacques segera diperbarui. Kini diperkirakan jika peningkatan kecerlangan komet Jacques terus berlanjut, komet ini sangat mungkin bisa menembus magnitude +3 bahkan +1. Ini artinya komet Jacques bisa jadi akan cukup terang untuk terlihat langsung. Bahkan meski langit tak begitu ideal sekalipun.


Komet Jacques dan Komet ISON Berbeda!!

Citra Komet ISON Jelang Perihelion pada 28 November 2013 oleh Wahana SOHO COR2-A.


Jika tahun lalu turut mengikuti update berita terkait astronomi, tentu nama komet C/2012 S1 ISON sudah tidak asing lagi. Namanya begitu sering “berseliweran” di timeline twitter hingga headline media masa. Inilah komet yang digadang akan menjadi komet paling terang abad ini.

Perkiraan ini sangat berdasar. Perihelion ISON sangat dekat. Jaraknya hanya 1,8 juta km atau kurang dari 5 kali jarak Bumi ke Bulan. Koma ISON pun sangat terang. Hingga membuatnya berhasil ditemukan saat masih di luar orbit Jupiter.

Terlebih lagi dengan perihelion dekat, maka inti komet ISON akan terpanasi dalam suhu tinggi dan mendapat tekanan kuat dari angin surya. Akibatnya inti komet akan terevaporasi hebat menghasilkan ekor komet yang sangat panjang dan terang.

Komet dengan koma sangat terang dan ekor panjang membentang, tentu akan sangat mudah dan indah jika dilihat bukan? Sepintas memang iya. Namun sebenarnya banyak catatan kaki yang harusnya diperhatikan.

Komet perihelion dekat memang sangat terang. Namun fase sangat terang ini umumnya berdurasi sangat singkat. Dalam waktu seminggu menuju perihelion, komet seperti ISON mampu “meloncat” hingga 10 tingkat magnitude. Selama seminggu itu, “loncatan” paling extreme adalah sehari menuju perihelion yang mencapai 5 magnitude. Sebaliknya, setelah perihelion komet ISON akan meredup secepat loncatannya tadi.

Hal ini mudah dipahami. Komet perihelion dekat akan bergerak sangat cepat ketika sudah dekat ke Matahari. Dengan kecepatan yang sangat cepat, jarak komet ke Matahari pun akan berubah drastis. Perubahan jarak ini akan berbanding lurus terhadap perubahan kecerlangan komet tersebut.

Dengan begitu, untuk melihat fase sangat terangnya, kita harus mengamatinya sekitar waktu perihelion. Antara seminggu bahkan sehari sebelum dan sesudah perihelion. Namun apa dengan begitu pasti akan terlihat?

Jarak yang sangat dekat memang meningkatkan kecerlangan komet secara drastis. Namun, hal ini juga akan menjadikan komet itu berada sangat dekat dari Matahari jika dilihat dari Bumi. Kembali mengambil contoh ISON, ketika perihelion ISON hanya akan berada 1° dari piringan Matahari. Artinya mengamati ISON pada saat seperti ini akan jauh lebih sulit dari melihat hilal sekalipun. Tentu solusinya kita harus menunggu ISON cukup jauh dari Matahari yang berarti kecerlangannya juga akan jauh menurun.

Komet perihelion dekat pun akan menerima panas berlebih, tekanan angin surya yang besar hingga gangguan gaya tidal akibat terlalu dekat dengan Matahari. Dengan kondisi ini inti komet akan terevaparosi hebat. Kandungan gas menguap cepat “mendobrak” keluar membawa serta material padat. Dengan begini inti komet memang akan membentuk ekor yang panjang, namun bisa juga hancur menjadi ekor seluruhnya. Kabar buruknyanya, kondisi seperti ini telah memakan banyak korban. Salah satunya adalah komet C/2012 S1 ISON.

Berbeda dengan ISON, Jacques sebagai komet perihelion jauh memiliki prilaku yang bertolak belakang dengan komet perihelion dekat. Jadi mana lebih baik? Rasanya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Seimbang.

Komet Jacques memang tidak akan sangat terang hingga bermagnitude negatif. Tapi akan lebih mudah terlihat karena berada jauh dari piringan Matahari. Ketinggiannya adalah kelebihannya.

Komet Jacques juga tidak akan mengalami pelonjakan dan penurunan kecerlangan yang extreme menjelang dan sesudah perihelion. Jadi waktu melihat puncak kecerlangannya juga lebih lama.

Komet Jacques mungkin tidak akan menunjukkan ekor sangat terang memanjang. Tapi keberhasilannya melewati perihelion juga menjadi lebih terjamin. Sehingga lebih mungkin tidak PHP seperti komet yang itu lho. Uhuk Uhuk..

Komet Jacques Bisa Mudah Terlihat.

Letak Komet Jacques Selama Juli 2014 di Indonesia saat Fajar Nautikal Disimulasikan oleh CyberSky.


Ketika perihelion tanggal 2 Juli 2014, komet Jacques akan berada sekitar 10° dari Matahari. Cukup tinggi. Namun untuk dapat terlihat, komet ini harus lebih tinggi lagi supaya tidak lenyap “ditelan” semburat sinar fajar yang benderang.

Pada minggu kedua bulan Juli 2014, komet Jacques sudah berada di ketinggian 5° hingga 12° di atas horison timur saat Matahari masih 12° di bawah horison. Dengan begitu, di Indonesia komet Jacques sudah cukup mudah ditemukan ketika langit masih cukup gelap.

Pada 15 Juli 2014, komet Jacques berada sekitar 3,5° di utara planet Venus. Ketinggian kedua obyek ini sekitar 14° di atas horison timur saat fajar sehingga akan sangat mudah terlihat.

Komet Jacques akan semakin tinggi dan bergerak ke arah timur laut. Pada akhir bulan Juli 2014 komet Jacques sudah sangat tinggi sekitar 27° di atas horison timur laut saat fajar.

Dengan memasukkan perkiraan kecerlangannya, maka komet Jacques bisa mencapai magnitude +1 saat perihelion hingga +2 pada akhir Juli 2014. Itu artinya besar kemungkinan akan terlihat komet seterang bintang-bintang di sabuk Orion dan terletak sangat tinggi di langit timur saat fajar selama bulan Juli 2014. Sangat layak untuk ditunggu!!