Hujan Meteor Quadrantids Tahun 2014

Bintang Arcturus di Rasi Bootes (Ditunjukkan oleh Lingkaran), Mars dan Saturnus Membentuk Segitiga. Disimulasikan oleh Stellarium pada 4 Januari 2014.

Tak terasa, tahun sudah berganti, sudah 2014 saja. Diawal tahun begini, orang-orang begitu bersemangat: merencanakan resolusi setahun kedepan dan bertekat agar resolusi itu bisa tercapai. Tidak boleh gagal. Setidaknya, jangan sampai kalah sebelum berperang.

Dengan adanya orang-orang yang berusaha mewarnai diri dan dunia, langit pun seakan ingin memberi sambutan hangat kepada mereka. Bagaimana tidak, belum genap seminggu setelah tahun berganti salah satu hujan meteor akan mencapai puncaknya. Itensitasnya pun besar. Hingga lebih dari 120 meteor tiap jamnya. Dia adalah hujan meteor Quadrantids.

Hujan meteor Quadrantids sebenarnya sudah mulai terlihat sejak 31 Desember 2013 dan akan terus berlangsung hingga 6 Januari 2014. Meski demikian, meteor-meteor yang terlihat baru banyak saat puncaknya terjadi. Yaitu pada tanggal 4 Januari 2014 pukul 02:30 WIB. Puncaknya pun hanya beberapa jam saja. Mungkin hanya sampai Matahari hendak terbit.

Hujan meteor Quadrantids terjadi akibat Bumi melintas “remah-remah” asteroid 2003 EH1. Ketika “remah-remah” berupa debu dan kerikil itu mengarah ke bumi dengan sangat cepat, atmosfer Bumi pun akan menahannya. Upaya penahanan oleh atmosfer akan menyebabkan tekanan yang sangat besar dan mendadak pada bagian terdepan debu dan krikil tersebut. Akibatnya “remah-remah” itupun akan memanas dan terbakar dengan cepat, membentuk apa yang kita kenal sebagai meteor.

Dengan gerakan meteor yang cepat dan datang dari arah yang tidak diketahui, maka meteor akan lebih mudah terlihat dengan mata telanjang. Penggunaan binokuler apalagi teleskop akan mempersempit medan pandang pengamat, sehingga makin mempersulit “penangkapan” penampakan meteor.

Yang menarik dari hujan meteor Quadrantids adalah kenyataan bahwa Bumi memotong tegak lurus orbit asteroids EH1. Dengan begitu, bumi akan melintasi orbit asteroid EH1 dengan waktu tempuh yang sebentar. Itulah alasan mengapa hujan meteor Quadrantids berlangsung dalam durasi yang sangat singkat dibanding hujan meteor lainnya.

Radian atau pusat hujan meteor Quadrantids berada di rasi Bootes. Namun sebenarnya bukan di rasi Bootes juga. Melainkan di rasi Quadrans Muralis yang letaknya di antara rasi Draco, Hercules dan Bootes. Rasi ini ditemukan di atlas bintang awal abad ke-19. Namun setelah ditentukannya daftar rasi bintang resmi yang berjumlah 88 oleh International Astronomical Union (IAU), beberapa rasi bintang termasuk rasi Quadrants Muralis akhirnya dihapus. Atau setidaknya tidak diakui. Praktis radian hujan meteor Quadrantids pun “direlokasi” ke rasi terdekat, dimana rasi Bootes lah yang terpilih.

Jadi itulah alasan mengapa hujan meteor ini disebut Quadrantids, bukan Bootids. Selain itu nama Bootids pun sudah digunakan untuk menamai hujan meteor lain.

Untuk pengamatan tahun ini kita akan diuntungkan dengan tiadanya polusi cahaya dari Bulan. Saat puncaknya, Bulan masih berada dalam fase sabit dan telah terbenam sebelum tengah malam. Dengan begitu, kita akan bisa lebih banyak melihat meteor yang melintas. Sampai ke meteor-meteor yang redup.

Awal bulan Januari, rasi Bootes sudah mulai terbit di arah timur laut sekitar pukul 02:00 waktu setempat. Itu berarti jika puncaknya terjadi pada pukul 02:30 WIB, Indonesia akan mendapat porsi terbaik karena rasi Bootes sudah lumayan tinggi di arah timur laut saat itu.

Setelah memasuki waktu subuh, langit akan bertambah ramai dengan bintang-bintang terang “jelmaan” para planet. Di langit timur, bintang Arcturus, bintang paling terang di rasi Bootes, akan membentuk segitiga dengan bintang merah terang dan bintang putih terang. Bintang merah terang merupakan penampakan dari planet Mars, sedangkan bintang putih terang merupakan perwujudan planet Saturnus.

Sedangkan di belahan langit barat akan ada planet Jupiter yang terlihat sebagai bintang putih terang di barat laut. Ditemani bintang Sirius, bintang paling terang, di sebelah barat. Serta bintang Canopus, bintang urutan kedua paling terang setelah Sirius, di barat daya.

Dengan “sorak-sorai” langit yang begitu ramai, alangkah ruginya jika kita tidak menyempatkan sedikit saja waktu untuk menengok langit kala itu. Jadi… selamat menikmati pentas langit, Sobat. Selamat menikmati keindahan yang dipersembahkanNya hanya untukmu. Hanya agar kamu bersyukur. *senyum :)