Ketika Bumi Menerjang Debu Komet ISON

Model Orbit Komet ISON dengan Orbit Planet-Planet Dalam oleh NASA

Sebagaimana telah kita ketahui, komet fenomenal C/2012 S1 ISON telah hancur sesaat menjelang perihelionnya. Yakni pada dini hari tanggal 28 November 2013 WIB. Peristiwa itu menyisakan sedikit bagian komet ISON yang kian lama kian kecil dan meredup.

Bahkan setelah lepas dari medan pandang satelit pengintai Matahari seperti SOHO, sisa komet ISON tersebut lenyap. Meski telah dicari dengan teleskop sekuat Hubble pun tidak ditemukan keberadaannya. Kini komet ISON dipastikan sudah benar-benar mati tak bersisa. Tak ada lagi komet “schrodinger” ISON.

Namun kabar baiknya, sebelum hancur, komet ISON sempat melintas dekat orbit Bumi. Tepatnya pada awal bulan November 2013 lalu, komet ISON melintas dekat orbit Bumi sejauh 3,2 juta km. Praktis hal tersebut menyebabkan banyak debu seripihan komet ISON berserakan didekat orbit Bumi. Lantas, akankah debu komet ISON tersebut menghujani Bumi dan mengakibatkan hujan meteor baru ketika Bumi melintas dekat orbit ISON?

Normalnya, jarak 3,2 juta km masih dianggap terlalu jauh untuk membuat debu-debu tersebut menghujani Bumi. Namun dengan sangat aktifnya inti komet ISON menghasilkan ekor debu, muncul lah harapan bahwa orbit ISON akan cukup lebar. Sehingga, sedikit banyak debu komet ISON mungkin akan mampu mencapai Bumi.

Pada bulan April 2013, NASA pun mengumumkan kemungkinan bahwa komet ISON akan menyebabkan hujan meteor pada 15 Januari 2014. Yakni ketika Bumi sampai dijarak terdekatnya dengan orbit ISON.

Namun pengamatan lebih lanjut menunjukkan sesuatu yang sangat unik, jika tak mau dibilang aneh, pada komet ISON. Komet ISON selain menghasilkan ekor debu yang sangat banyak, ternyata juga menghasilkan debu-debu berukuran sangat halus alias mikroskopis.

Hujan meteor dari debu komet ISON?

Rasi Leo di Meridian Utara Disimulasikan oleh CyberSky

Jika kita melempar kerikil ke sungai, maka kerikil itu akan dengan sangat cepatnya menerjang air sungai menuju dasar. Makin besar makin tak terhenti. Namun hal yang berbeda terjadi jika yang kita lempar adalah sekumpulan debu halus. Sekuat apapun kita melempar, debu tersebut hanya akan mengambang di atas sungai. Beberapa lama, hingga akhirnya perlahan-lahan debu itu tenggelam.

Hal serupa juga terjadi diatas kita, dimana air sungai adalah atmosfer Bumi, kerikil adalah meteoroid dan debu yang sangat halus adalah mikrometeoroid.

Secara teori, sebuah meteoroid atau debu di angkasa harus cukup besar sehingga mampu menerjang atmosfer Bumi dan terbakar didalamnya. Membentuk apa yang kita lihat sebagai meteor. Seberapa besar? Harus lebih berat dari 1,5x10^-8 gram dan lebih besar dari 20 mikrometer.

Jika lebih kecil dari itu, debu antariksa tersebut akan digolongkan sebagai mikrometeoroid. Dengan ukuran yang sangat kecil, mikrometeoroid tidak memiliki cukup energi kinetik dan momentum untuk bisa mempertahankan lajunya menembus atmosfer Bumi.

Dengan demikian, laju mikrometeoroid akan terhenti ketika menabrak lapisan atmosfer Bumi. Membuatnya mengapung dipermukaan atmosfer selang beberapa waktu, hingga perlahan-lahan mikrometeoroid itu pun jatuh ke Bumi.

Saat ini telah diketahui jika debu-debu serpihan komet ISON tergolong mikrometeoroid. Berarti ukuran debu komet ISON terlalu kecil untuk mampu menghasilkan hujan meteor. Jika pun mampu, meteor yang terbentuk bisa jadi sangat redup. Sulit terlihat. Terlebih lagi saat puncak "kemungkinan" hujan meteor, fase bulan mejelang purnama. Sehingga langit malam akan terang benderang dibuatnya. Praktis, kemungkinan terjadinya hujan meteor pun mendekati mustahil terlihat.

Namun tentu, alam tidak bisa ditebak. Jika tetap penasaran dan ingin mencoba keberuntungan berburu hujan meteor oleh komet ISON, maka carilah rasi Leo yang menjadi radiannya. Rasi Leo akan berada di meridian utara pukul 02:00 waktu setempat.

Awan noktilusen dari debu komet ISON?

Awan Noktilusen di Solway Firth oleh Adrian Strand via EarthSky

Sebagaimana kodratnya sebagai mikrometeoroid, debu komet ISON lebih berpotensi hanya mengambang diketinggian atmosfer. Jika jumlahnya banyak, maka debu-debu komet ISON akan berkumpul membentuk suatu awan debu atau lebih dikenal sebagai awan noktilusen.

Awan noktilusen atau noctilucent could adalah sekumpulan debu yang berasal dari mikrometeoroid yang melayang-layang di lapisan mesopause, pada ketinggian lebih dari 80 km. Dengan ketinggian yang sangat-sangat, maka awan noktilusen pun menjadi awan aerosol tertinggi yang ada di atmosfer Bumi.

Dengan ketinggian yang sangat-sangat itu juga, maka awan noktilusen akan lebih lama tersinari oleh Matahari. Bahkan cukup lama setelah Matahari tenggelam dan sekeliling kita mulai gelap semua, awan noktilusen masih tetap bercahaya karena masih tersinari oleh Matahari. Oleh karena itu pula awan noktilusen sering dijuluki awan malam bersinar.

Awan noktilusen umumnya mampu bertahan antara beberapa jam hingga beberapa hari, bahkan beberapa minggu. Hal ini sangat mengacu pada seberapa besar ukuran sekumpulan mikrometeoroid yang membentuknya. Makin kecil makin lama pula bertahan. Awan noktilusen akan berakhir ketika mayoritas debu-debu mikrometeoroid penyusunnya sudah jatuh ke permukaan Bumi.

Jadi.. jika debu komet ISON ternyata memang sangat-sangat halus, maka bisa jadi kita akan melihat sekumpulan awan noktilusen bersinar dimalam hari untuk beberapa hari kedepan. Bila benar begitu, sepertinya ini kesepakatan yang adil tanpa adanya hujan meteor dari ISON. Setujukah?