Awan, Hujan dan Meteor Geminids Tahun 2011


Tik.. tik.. tik.. bunyi hujan diatas genting ..
Airnya turun.. tidak terkira ..
Cobalah tengok.. dahan dan ranting ..
Pohon dan kebun basah semua ..



Teringat kembali pada sebait lagu semasa kecil ketika menatap gerimis yang berubah jadi hujan. Seakan tetes-tetes air dari langit yang temaram telah meresonansikan ingatan dimasa lalu.

Dimusim hujan seperti ini pula lah, melihat satu saja bintang di antara mega-mega awan di waktu malam menjadi sesuatu yang mewah.

Namun tentu saja bukan hanya bintang yang akan menjadi begitu mewah ketika musim hujan, namun juga meteor.

Tiba di akhir tahun, kabarnya hujan meteor geminids yang deras akan terjadi. Setidaknya 1 hingga 17 Desember hujan meteor ini sudah dapat teramati.

Dengan hipotesis asteroids 3200 Phaethon yang mengemisikan debu ketika mengorbit Matahari, maka pertanyaan asal muasal meteor geminids sedikit terjawab.

Dikatakan "Sedikit terjawab" karena debu hasil emisi tersebut diyakini terlalu sedikit untuk menghasilkan suatu hujan meteor sebesar geminids. Sehingga jawaban lain dari pertanyaan asal usul geminids masih dicari.

Terlepas bagaimana asteroids 3200 Phaethon menghasilkan banyak debu di antariksa, debu-debu tersebut sudah sejak 600 hingga 1600 tahun lalu menghiasi keindahan langit malam dengan meteor geminids yang dihasilkannya.

Rasi Gemini di Barat Menjelang Matahari Terbit

Pada tahun ini, 120-an meteor geminids diperkirakan akan berjatuhan tiap jam di waktu puncaknya pada 14 Desember dini hari nanti.

Cukup berharap awan tak terlalu tamak menguasai langit, sehingga rasi Gemini sebagai radiannya bisa terlihat di langit barat sebelum fajar dan meteor akan deras berjatuhan.